assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh
sebentar lagi 2011 akan berganti dengan 2012. orang bersuka ria menatap ke depan dan berharap berkah melimpah. ayo kita renungkan kawan, bukan jagung bakar atau BBQ di malam itu makna ke depannya, bukan pula bergelas2 minuman penghangat menunggu detik 00.00 nya, bukan pula dansa dan canda tawa....
tapi, makna itu akan terselip di setiap langkah dan laku kita terhadapNya, dan terhadap sesama, dalam setiap asa dan pinta, dalam setiap doa dan kerja, dalam setiap dharma dan karya
lama dan baru akan sama, kalau dalam baru masih seperti yang dulu
lama dan baru akan beda jika dalam baru tidak seperti yang dulu
wassalam
wallahu a'lam bissawab
blog ini merupakan curahan tertulis, cita-cita, maupun karya, sebagai bentuk tanggung jawab intelektual dan moral untuk pengembangan ilmu pengetahuan, persembahan dari Encik Akhmad Syaifudin, Faperta Unmul Samarinda.
Thursday, December 29, 2011
Thursday, December 23, 2010
Pemenang dan Pecundang
Sudah jelas apa kepentingan pecundang itu, yang penuh dengan rencana, namun semua rencana itu penuh dengan rekayasa.
sudah jelas apa pula kehendak pecundang itu, yang penuh dengan nafsu angkara, namun semua kehendak itu penuh dengan tipudaya.
maka hati-hatilah wahai pemenang...... atas perilaku pecundang itu.
sudah jelas apa pula kehendak pecundang itu, yang penuh dengan nafsu angkara, namun semua kehendak itu penuh dengan tipudaya.
maka hati-hatilah wahai pemenang...... atas perilaku pecundang itu.
Saturday, June 6, 2009
PENAWARAN PUPUK ORGANIK "SHITRIPLUS"




LAB ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAPERTA UNMUL Menawarkan pupuk organik merk "SHITRIPLUS" Pupuk ini telah terbukti mendukung pertumbuhan tanaman, baik hortikultura (tanaman hias) maupun tanaman pangan. Pupuk dibuat dari jerami, dedak, dan pupuk kandang yang telah didekomposisi, dan diperkaya dengan mineral Ca yang bersumber dari tepung kulit telur, serta mikroorganisme antagonis Trichoderma sp. yang bermanfaat melindungi tanaman dari patogen tular tanah.
Peminat dapat langsung datang ke Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Faperta Unmul, l. Tanah Grogot 1, Gedung C-15 lantai 3, atau melalui kontak HP: 08125803068,
Friday, June 5, 2009
PELATIHAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) DATANG KE TEMPAT ANDA
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) mulai dibudidayakan pada tahun 1900 dan jamur tiram kelabu (Pleurotus sajor caju) pada tahun 1974. Untuk memproduksi kedua spesies jamur tersebut sebagai bahan makanan manusia, salah satu faktor yang perlu diperhatikan yaitu tersedianya substrat sederhana dan murah. Pada umumnya substrat yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah serbuk gergaji.
Adapun karakteristik pertumbuhan jamur tiram pada baglog serbuk gergaji yaitu dalam jangka waktu antara 40-60 hari seluruh permukaan baglog sudah rata ditumbuhi oleh misellium berwarna putih. Satu sampai dua minggu setelah baglog dibuka biasanya akan tumbuh tunas dalam 2-3 hari akan menjadi badan buah yang sempurna untuk dipanen.
Pertumbuhan badan buah pada waktu panen telah menunjukkan lebar tudung antara 5-10 cm. Produksi jamur dilakukan dengan memanen badan buah sebanyak 4-5 kali panen dengan rerata 100 g jamur setiap panen. Adapun jarak selang waktu antara masing- masing panen adalah 1-2 minggu.
Kategori pelatihan:
Pembibitan: 2 hari. Biaya Rp 750.000,-/orang fasilitas: modul, blocknote pulpen, bahan/alat lab, snack, makan siang, sertifikat, dan oleh-oleh: bibit 1 botol
Budidaya : 1 hari, biaya Rp 500.000,- /orang, fasilitas: modul, blocknote pulpen, bahan/alat lab, snack, makan siang, sertifikat, dan oleh-oleh: baglog
Semua peserta pelatihan mendapat sertifikat.
Jika anda berombongan, dan membawa 9 peserta lainnya, anda akan mendapat potongan harga 10%
Pelatihan di Lab IHPT Faperta Unmul, direncanakan pertengahan bulan Juni 2009 yang akan datang. Untuk in house training di mana trainer datang ke lokasi kelompok, akan dilakukan kapanpun, sesuai dengan kelas yang menginginkan.
Pelatihan ini ditawarkan minimum untuk (10) sepuluh orangi. Bila berminat hubungi 0541 7798912
Eceng gondok (Eichhornia crassipes Mart. Solm.)

Eceng gondok (Eicchornia crassipes Mart. Solm) selain terdapat melimpah juga cenderung mengganggu. Namun demikian di balik ketidak-tahuan orang terhadap keberadaannya itu bnyak potensi yang belum termanfaatkan. Eceng gondok ternyata juga mempunyai beberapa manfaat antara lain sebagai bahan untuk kerajinan, sebagai adsorben logam yang berbahaya dan juga sebagai pakan ternak, namun sampai sekarang enceng gondok tetap dianggap sebagai tanaman pengganggu. Oleh karena itu banyak upaya dilakukan untuk memberantasnya walaupun amat sulit karena pertumbuhannya yang amat cepat. Enceng gondok sebenarnya mengandung lignoselulosa, sedangkan selulosa merupakan bahan untuk pembuatan kertas, selain itu, dengan kandungan selulosanya, enceng gondok bisa juga digunakan sebagai bahan pembuatan bioetanol yang sekarang ini amat diperlukan untuk mengatasi berkurangnya produksi minyak dunia.
Dengan pengelolaan saluran terdapat penumpukan biomassa, maka dapat dilakukan suatu pemanfaatan alternatif terhadap enceng gondok ini dengan jalan pembuatan briket arang. Kandungan selulosa dan senyawa organik pada enceng gondok berpotensi memberikan nilai kalor yang cukup baik. Dengan demikian briket arang dari enceng gondok ini dapat dimanfaatan sebagai bahan bakar alternatif, disamping dapat membuat dampak yang sangat baik pula bagi lingkungan.
Di samping bio arang, eceng gondok dapat pula dibuat sebagai bahan baku biogas. Intinya untuk bio gas ini yang dimanfaatkan adalah gas yang dihasilkan dari proses fermentasi biologisnya.
Monday, May 18, 2009
Pemanasan global
Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca (disalin dari wikipedia)
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca (disalin dari wikipedia)
Monday, April 6, 2009
Resah
Bagaimana rasanya bahagia?
bahagia rasanya adalah tidak kurang suatu apa
bagaimana rasanya tidak kurang suatu apa?
karena yang dibutuhkan semua ada
seperti apa semua ada
ketika ingin maka tersedia
bagaimana caranya menyediakan apa yang kita inginkan?
nah itu dia,
hiraukah kita dengan cara yang kita lakukan?
bahkan,
ketika kita melakukan hal yang tidak lazim
maka hati kita tdak akan bahagia,
sebab
hati kita pasti menolaknya
bahagia rasanya adalah tidak kurang suatu apa
bagaimana rasanya tidak kurang suatu apa?
karena yang dibutuhkan semua ada
seperti apa semua ada
ketika ingin maka tersedia
bagaimana caranya menyediakan apa yang kita inginkan?
nah itu dia,
hiraukah kita dengan cara yang kita lakukan?
bahkan,
ketika kita melakukan hal yang tidak lazim
maka hati kita tdak akan bahagia,
sebab
hati kita pasti menolaknya
Subscribe to:
Posts (Atom)