Tuesday, February 20, 2007

Otonom, atau terprogram? sebuah renungan di malam sunyi

E.A.Syaifudin


Pernah terlintas di pikiranku bahwa proses manusia hidup, mulai lahir ke dunia, berjuang, eksis, meneruskan keturunan, lalu mati, dengan semata-mata potensi dirinya sendiri, pilihannya sendiri, dan atas itulah kemudian pada proses hidupnya di alam lain akan dipertanggung jawabkan. Hidup seperti ini boleh jadi dikatakan hidup yang mandiri, sebab diri itulah yang melaksanakan hajat hidup, apakah hajat yang baik, atau hajat yang jelek, dan kepada diri itulah patut dimintakan sebuah tanggung jawab atas hajat hidup yang telah dilakoninya. Tapi, pikiranku kemudian buram.. tidak dapat menerima bahwa adanya sebuah kemandirian pada manusia, sebab pada manusia-lah selemah-lemahnya kedudukan bila dilihat dari kodratnya.

Lihatlah sebuah wayang golek... tergeletak atau tertancap begitu saja di batang pisang, tanpa bisa berbuat apapun. Seperti inilah manusia, yang dalam posisi tidak ada kekuatan yang diinputkan, maka pasti hanya tergolek, layaknya orang mati. Apa kekuatan itu? tidak lain adalah ruh Tuhan yang diberikan kepada manusia agar manusia dapat bergerak. Ibarat wayang, maka yang bergerak tentu saja adalah sang dalang, yang membuat dia dapat menari, berperang, terbang dan apapun dapat di'lakukan'nya jika sang dalang memerankannya. Timbul pertanyaan, apa peranan wayang itu sepanjang lakonnya? jika dia benar melakonkan perannya, patutkan dia mendapat sorakan, atau, jika ia melakukan kekeliruan gerak, patutkah ditimpakan kesalahan kepadanya?

Ya... nampaknya tiada sesuatupun kepatutan yang dapat diberikan kepada wayang yang tergolek itu, melainkan kepada sang dalang jua lah hal itu patut.
pertanyaan selanjutnya, lalu untuk apa sang dalang memerintahkan sang wayang untuk melakonkan hal itu? yang jelas hanya dalang yang tahu

Hal ini 'mungkin' juga berlaku bagi manusia, sebab yang manusia tahu bahwa semua manusia dan semua perilakunya, serta alam lingkungan nya diciptakan oleh Tuhan. Oleh sebab itu lah dikatakan bahwa Tuhan itu Maha Pencipta. Ini disebutkanNya dalam kitab yang diwahyukannya kepada para Rosul. Dia lah yang menggerakkan tangan, kaki, kepala, mata, yang dapat terlihat, serta pikiran, dan hati yang jauh tersembunyi.

Aku menyatakan 'mungkin' di sini, sebab I'm not sure too apakah logika ku ini benar. Hanya Tuhan yang tahu.




Monday, February 19, 2007

TINJAUAN REAKSI BEBERAPA KULTIVAR LOKAL PADI (Oryza sativa L.) LAHAN DARAT TERHADAP PERSAINGAN BEBERAPA SPESIES GULMA

E.A.SYAIFUDIN1)

1) PS. IHPT Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman

Jl. Pasir Belengkong Kampus Unmul Gunung Kelua, Samarinda

ABSTRAK

Empat set percobaan rumah kaca telah dilaksanakan untuk mempelajari ketahanan beberapa kultivar lokal padi (O.sativa) lahan darat terhadap persangan beberapa spesies gulma. Sepuluh perlakuan kultivar padi disusun dalam rancangan acak kelompok dan masing-masing diulang tiga kali. Set pertama disaingkan dengan Imperata cylindrica, set kedua disaingkan dengan Ageratum conyzoides, set ketiga disaingkan dengan Eleusine indica, dan set keempat disaingkan dengan Echinochloa crus-galli. Berdasarkan hasil gabah kering padi, terdapat masing-masing tiga kelompok ketahanan padi yang bersaing dengan I. cylindrica, A. conyzoides, dan E. indica, dan lima kelompok ketahanan karena persaingan dengan E. crus-galli.

ABSTRACT

Four sets of greenhouse experiments was conducted to study the resistance of some upland rice (O. sativa) cultivars on the competition of some weed species. Ten treatments of rice cultivars were arranged under the randomized completely block design and replicated three times, respectively. The first set were competed with I. cylindrica, the second one with A. conyzoides, the thrid one with E. indica, and the fourth one with E. crus-galli. Based on the rice production, there were three resistance group of rice which competed to I. cylindrica, A. conyzoides, and E. indica, and five group of resistance which competed with E. crus-galli.

I. Pendahuluan

Melimpahnya jenis dan populasi gulma pada pertanaman padi di lahan darat menjadi salah satu faktor pembatas produksi padi. Pada kenyataannya, akibat keterbatasan tenaga kerja untuk pengendalian gulma di lapangan, banyak pertanaman padi kultivar lokal yang berasosiasi dengan gulma. Kehadiran gulma pada pertanaman padi menimbulkan masalah secara langsung, yaitu kompetisi antara padi dengan gulma untuk memperoleh air, unsur hara, dan radiasi matahari, dan secara tidak langsung gulma berpengaruh buruk karena dapat meningkatkan kelembaban lingkungan pertumbuhan padi serta dapat menjadi inang bagi hama dan patogen tertentu.

Ditinjau dari segi sosial budaya masyarakat serta luas lahan yang tersedia, pengembangan tanaman padi (Oryza sati­va. L) lahan darat di Kalimantan Timur sangat tepat. Hal itu dapat dimaklumi karena secara tradisional suku ‑ suku asli di Kalimantan Timur telah turun temurun mempraktik­kannya. Menurut catatan BPS (1999), di Indonesia terdapat 4,51 juta ha pertanaman padi lahan darat, dengan hasil rata-rara 2,2 ton ha-1, sementara hasil padi sawah rata-rata 4,70 ton ha-1. Di Kalimantan Timur, menurut BAPPEDA BPS Kaltim (2001), terdapat 52.466 ha lahan darat aktual untuk pertanaman padi gogo dengan rata - rata hasil hingga tahun 2000 sebesar 2,17 ton ha-1. Hasil yang rendah itu diduga akibat kurang intensifnya pengelolaan gulma dan jasad pengganggu lainnya seperti hama dan patogen.

Umumnya budidaya padi lahan darat berada di luar Jawa yang sedikit sekali tersentuh oleh masukan teknologi seperti benih unggul, pemupukan, dan pengelolaan organisme pengganggu tanaman seperti gulma, hama, dan patogen. Pada umumnya padi yang dibudidayakan merupakan kultivar lokal yang berumur dalam yang menghasilkan beras dengan rasa nasi enak, aroma yang wangi, dan disukai masyarakat sehingga ditanam turun temurun. Hal ini sesungguhnya merupakan suatu keadaan yang kondusif, sebab, selama ini budidaya padi khususnya padi sawah telah disentuh dengan masukan teknologi seperti benih unggul, pemupukan, pengairan, pengelolaan hama, penyakit, dan gulma, pengolahan tanah, yang kesemuanya itu merupakan paket pada era revolus hijau. Pada era itu kearifan pertanian lokal telah dimarjinalkan, misalnya diabaikannya pengetahuan dan sistem pertanian tradisional yang penting bagi pertanian berkelanjutan, yang berdampak pada terjadinya erosi keanekargaman hayati pertanian serta menyebabkan matinya kreativitas dan kebebasan petani seta hilangya lembaga ekoomi lokal. Petani semata-mata dijadikan alat produksi dan alat pemerintah untuk mencapai target pemerintah (Damayanti, 2000 dalam Abdullah, 2002), sementara telah terjadi konversi lahan pertanian beririgasi teknis 50.000 hektar per tahun ke sektor non pertanian (Harsono, 1995 dalam Abdullah, 2002) sehingga pengembangan padi lahan darat dirasa semakin penting.

Di Kalimantan Timur, diperkirakan terdapat lebih dari 300 kultivar padi lokal. Hal ini sangat berarti baik untuk tujuan pemuliaan, maupun untuk pengembangan. Beberapa di antaranya telah diuji poteni hasilnya, baik dalam skala rumah kaca maupun skala pengembangan. Untuk tujuan mengetahui ketahanan kultivar padi lokal bersaing dengan beberapa spesies gulma maka dilakukanlah empa set percobaan ini.

II. Bahan dan Metode

Percobaan dilakukan pada Januari hingga Agustus 2004, di Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman. Empat set percobaan ini dirancang dengan rancangan acak kelompok (RAK), dengan sepuluh kultivar padi lahan darat sebagai perlakuan, dan masing – masing diulang tiga kali. Set pertama adalah persaingan Imperata cylindrica dengan padi kultivar Jambu Putih, Sangkit Merah, Rumbia, Sanuk, Pandan Wangi, Pora, Serkap Putih, Pandan Putih, Tiloi, dan Terang Bulan. Set Ke dua adalah persaingan Ageratum conyzoides dengan padi kultivar Jambu Putih, Sangkit Merah, Rumbia, Sanuk, Pandan Wangi, Pora, Serkap Putih, Tiloi, Pandan Putih, dan Terang Bulan. Set ketiga adalah persaingan Eleusine indica dengan padi kultivar Jambu Putih, Sangkit Merah, Rumbia, Sanuk, Pandan Wangi, Pora, Serkap Putih, Pandan Putih, Tiloi, dan Terang Bulan. Set Ke empat adalah persaingan Echinochloa crus-galli dengan padi kultivar Jahri, Rimba, Terang Bulan, Sebakung, Basut, Abang, Lani, Ikal, Keriting, dan Ketan Gunung. Teknik analisis varian digunakan untuk analisis data, serta dilanjutkan dengan uji gerombol untuk melihat ketahanan padi bersaing dengan gulma. Data yang dikumpulkan adalah data hasil per tanaman.

Untuk mendapatkan bibit yang seragam dilakukan penyemaian benih. Benih direndam dalam larutan abu gosok, dimana benih yang tenggelam diambil untuk disemai dan yang timbul tidak diambil. Benih disemai pada tanah lembab yang diletakkan dalam polybag. Pada umur 20 hari (stadia daun dua) dilakukan penanaman pada tanah dalam polybag. Untuk gulma diilakukan pengumpulan anakan yang besarnya seragam. Sementara menunggu semai, dilakukan persiapan tanah. Lima belas kilogram tanah lahan darat kering udara yang telah diayak ditimbang dan dimasukkan ke dalam polybag, kemudian diberikan pupuk dasar dengan dosis 200 kg ha-1 Urea, 75 kg ha-1 SP-36, dan 50 kg ha-1 KCl pada persiapan tanah, dan 6 minggu setelah tanam. Penanaman dilakukan dengan menanam satu bibit padi dan satu bibit gulma. Pada tanaman dilakukan penyiraman dan penyulaman serta penyiangan bilamana diperlukan. Panen dilakukan jika telah terlihat tanda-tanda tanaman sudah cukup tua (senescence), yaitu daun padi menguning, tangkai malai sudah merunduk, gabah telah bernas dan keras, dan warna gabah telah kuning kecoklatan.

III. Hasil dan Pembahasan

Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa respons kultivar-kultivar padi sangat bervariasi terhadap kehadiran gulma tersebut. Tabel 1, 2, 3, dan 4, masing - masing menunjukkan pengaruh Imperata cylindrca, Ageratum conyzoides, Eleusine indica, dan Echinochloa crus-galli terhadap hasil per tanaman kultivar padi lahan darat.

Tabel 1. Pengaruh Imperata cylindrca terhadap rata-rata hasil per tanaman kultivar padi (g)

Kultivar

Rata-rata hasil per tanaman (g)

Jambu Putih

7,17 a

Sangkit Merah

6,87 a

Rumbia

5,50 b

Sanuk

7,17 a

Pandan Wangi

5,00 bc

Pora

7,33 a

Serkap Putih

1,57 d

Tiloi

4,93 bc

Pandan Putih

2,53 d

Terang Bulan

4,50

Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak nyata (BNT 0,05)

Tabel 2. Pengaruh Ageratum conyzoides terhadap rata-rata hasil per tanaman kultivar padi (g)

Kultivar

Rata-rata hasil per tanaman (g)

Jambu Putih

3,20 b

Sangkit Merah

2,67 bc

Rumbia

3,20 b

Sanuk

1,80 c

Pandan Wangi

4,90 a

Pora

4,90 a

Serkap Putih

1,63 c

Tiloi

1,97 bc

Pandan Putih

1,73c

Terang Bulan

2,83 bc

Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak nyata (BNT 0,05)

Tabel 3. Pengaruh Eleusine indica terhadap rata-rata hasil per tanaman kultivar padi (g)

Kultivar

Rata-rata hasil per tanaman (g)

Jambu Putih

3,87 def

Sangkit Merah

8,50 c

Rumbia

5,20 de

Sanuk

6,00 cd

Pandan Wangi

16,33 a

Pora

8,83 b

Serkap Putih

1,70 f

Tiloi

2,80 ef

Pandan Putih

3,57 def

Terang Bulan

4,23 de

Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak nyata (BNT 0,05)

Tabel 4 Pengaruh Echinochloa crus-galli terhadap rata-rata hasil per tanaman kultivar padi (g)

Kultivar

Rata-rata hasil per tanaman (g)

Jahri

2,37 ab

Rimba

1,47 c

Terang Bulan

1,70 bc

Sembakung Kuning

1,43 c

Basut

3,10 a

Abang

1,33 c

Lani

1,30 c

Ikal

2,03 bc

Keriting

1,70 bc

Ketan Gunung

1,67 bc

Angka rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak nyata (BNT 0,05)

Percobaan ini telah menghasilkan respon yang sangat variatif. Gangguan gulma pada pertanaman padi lahan darat timbul lebih intensif karena tidak adanya faktor penekanan pertumbuhannya seperti di sawah, yaitu akumulasi air (Utomo dan Mahendra, 1990). Selain itu, sebagaimana dilaporkan oleh Partomihardjo (1990), struktur dan komposisi vegetasi gulma lahan darat lebih kompleks dibandingkan dengan lahan basah. Mukhopadhyay (1982) melaporkan bahwa gulma padi lahan darat kebanyakan tergolong ke dalam golongan gulma rumput ‑ rumputan, termasuk I. cylindrica, E. crus‑galli, dan Eleusine indica serta golongan gulma ber­daun lebar. Dari catatan Okafor dan DeDatta (1974) serta Eussen dan Soerjani (1976), diperoleh informasi bahwa gulma yang dominan pada padi gogo di Indonesia adalah C. rotundus dan Imperata cylindrica (L.) Beauv. Menur­ut catatan Okafor dan DeDatta (1974) mengenai padi yang ditanam sebar langsung, pengurangan hasil karena persaingan dengan gulma mencapai 82 % jika semua spesies dibiarkan bersaing dengan padi, sedangkan rumput ‑ rumputan dan gulma berdaun lebar tahunan dapat mengurangi hasil hingga 70 %, dan C. rotundus dapat mengurangi hasil hingga 41 %. Hal itu terjadi karena gulma berkecambah segera dan tumbuh lebih bervigor daripada padi.

Tiga set percobaan pertama menggunakan serial kultivar yang sama, sementara satu set percobaan ke empat menggunakan satu seri kultivar yang berbeda sama sekali terhadap tiga set percobaan pertama. Untuk tiga set percobaan pertama (Tabel 1, 2, dan 3) nampak bahwa spesies gulma yang paling berat hingga paling ringan pengaruhnya kepada sepuluh kultivar padi adalah A. conyzoides, I. cylindrica dan E. indica. Dibandingkan dengan ke tiga set yang pertama, maka kultivar padi yang dicobakan pada set ke empat menunjukkan hasil paling rendah. Hal ini dapat dimaklumi karena persaingan itu terjadi dengan Echinochloa crus-galli. Hasil ini menunjukkan bahwa untuk tujuan pengembangan maka apabila dipakai kultivar-kultivar tersebut, perhatian kepada spesies gulma ini harus lebih memadai, agar padi terhindar dari persaingan yang berat, sebagaimana yang disebutkan oleh Okafor dan DeDatta (1974).

Hasil analisis gerombol (cluster analysis) telah menunjukkan ketahanan kultivar-kultivar padi karena persaingan dengan gulma, dari tingkat tahan, hingga rentan. Tabel 5, 6, 7, dan 8, menunjukkan kelompok padi dengan tingkat ketahanan tersebut.

Tabel 5. Pengaruh Imperata cylindrca terhadap Ketahanan kultivar padi

Kultivar

Ketahanan

Jambu Putih

Moderat

Sangkit Merah

Moderat

Rumbia

Moderat

Sanuk

Moderat

Pandan Wangi

Tahan

Pora

Tahan

Serkap Putih

Rentan

Tiloi

Moderat

Pandan Putih

Rentan

Terang Bulan

Rentan

Tabel 6. Pengaruh Ageratum conyzoides Ketahanan kultivar padi

Kultivar

Ketahanan

Jambu Putih

Rentan

Sangkit Merah

Rentan

Rumbia

Rentan

Sanuk

Rentan

Pandan Wangi

Moderat

Pora

Moderat

Serkap Putih

Moderat

Tiloi

Moderat

Pandan Putih

Tahan

Terang Bulan

Tahan

Tabel 7. Pengaruh Eleusine indica Ketahanan kultivar padi

Kultivar

Ketahanan

Jambu Putih

Rentan

Sangkit Merah

Moderat

Rumbia

Moderat

Sanuk

Moderat

Pandan Wangi

Tahan

Pora

Tahan

Serkap Putih

Rentan

Tiloi

Rentan

Pandan Putih

Rentan

Terang Bulan

Rentan

Tabel 8 Pengaruh Echinochloa crus-galli terhadap ketahanan kultivar padi (g)

Kultivar

Ketahanan

Jahri

Agak tahan

Rimba

Agak rentan

Terang Bulan

Kurang rentan

Sembakung Kuning

Agak rentan

Basut

Tahan

Abang

Rentan

Lani

Rentan

Ikal

Agak tahan

Keriting

Kurang rentan

Ketan Gunung

Kurang rentan

Dari tiga set percobaan pertama, kultivar Pora nampaknya memiliki ketahanan bersaing tertinggi. Sementara dari set percobaan ke empat, hanya kultivar Basut yang mendapatkan kategori tahan bersaing. Kategori Moderat dan rentan nampak lebih stabil pada kultivar-kultiivar padi yang bersaing dengan dua gulma rumput-rumputan (I. cylindrica dan E. indica), sedangkan pada persaingan dengan A. conyzoides, kategori moderat dan rentan terjadi pada kultivar-kultivar yang semula pada persaingan dengan rumput-rumputan memiliki kategori rentan dan moderat. Mungkin perbedaan golongan gulma yang bersaing yaitu rumput-rumputan dan berdaun lebar turut menentukan hal ini. Studi lebih lanjut diperlukan untuk penegasan dugaan ini.

IV. Kesimpulan

Dari hasil percobaan ini dapat disimpulkan bahwa :

1. Dalam rangka pengembangan kultivar-kultivar padi ini, persaingan dengan gulma harus dihindarkan.

2. Kultivar Pora dan Basut, merupakan kultivar yang memiliki ketahanan bersaing tertinggi.

3. Terdapat tiga kelompok ketahanan bersaing pada kultivar-kultivar padi yang bersaing dengan I. cylindrica, A. conyzoides, dan E. Indica, dan lima kelompok ketahanan pada kultivar-kultivar padi yang bersaing dengan E. crus-galli.

V. Ucapan Terimakasih

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Rusdiansyah, yang telah membantu dalam pengadaan benih padi lahan darat lokal Kalimantan Timur, dan Saudara-saudara Suwarno, Dewi Chairiah, D. Novandi, dan Seriminawati, atas bantuannya.

VI. Daftar Pustaka

Abdullah, O. S. 2002. Tanggung jawab sosial masyarakat ilmiah dalam menata lingkungan masa depan. Upaya meniti pembangunan berkelanjutan. Makalah kuliah perdana tgl 23 September 2002. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung. 26 hal.

BAPPEDA BPS Kaltim. 2001. Kalimantan Timur Dalam Angka. 411 hal.

BPS, 1999. Survey Pertanian Produksi Tanaman Padi di Indonesia. Hlm. xxvi – xxxxi.

Utomo, I.H. dan A. Mahendra. 1990. Periode kritis padi gogo terhadap persaingan dengan gulma Borreria alata (AUBL.) DC. Pros. Konf. X HIGI : 176 – 182.

Partomihardjo, T. 1990. Komunitas gulma pada ladang berpindah dan sawah muda di kampung Masa, Kalbar. Pros. X Konf. HIGI. 295 – 305.

Mukopadhyay, S.K. 1982. Weed problem and control of weed in rice in West Bengal. Rice in West Bengal. Vol. 3. Calcutta. Hal 127 – 138.

Okafor, L.I. dan S.K. DeDatta. 1974. Competition between weeds and upland rice in Moonsoon Asia. Phil. Weed Sci. Bull. 1 : 39 – 45.

Eussen, J.H.H., dan M. Soerjani. 1976. Problem and control of alang – alang (Imperata cylindrica (L) Beauv.) in Indonesia. Proc. 5th Aspac Weed Sci. Conf. : 58 – 65.

Sunday, February 18, 2007

Ketahanan tanaman, tinjauan ekologi dan ekonomi sumberdaya 1)

E. AKHMAD SYAIFUDIN[2])

I. Sistem Pertanian dan Keseimbangan Lingkungan

Kegiatan pertanian telah mengubah komunitas hutan menjadi areal pertanian. Komunitas hutan memiliki stabilitas dan keanekaragaman hayati yang tinggi, tetapi kurang bermanfaat bagi manusia dalam arti produktivitas per biomassa-nya rendah. Kegiatan pertanian bertujuan mempertinggi produktivitas per biomassa, sehingga kawasan hutan yang memiliki banyak aneka tumbuhan dan satwa diubah menjadi lebih homogen, sehingga produktivitas per biomassa-nya tinggi. Kawasan yang telah diubah ini sering disebut pertanaman monokultur, berciri tidak mantap. Untuk itu, perlu dijaga kemantapannya dengan memberi input, seperti tenaga kerja, air, pupuk, pestisida, dan mekanisasi, yang kesemuanya berorientasi pada waktu, tenaga-pikiran, biaya dan energi. Dipilihnya genotipe padi dengan rumpun yang pendek dan jumlah bulir yang banyak dalam proses seleksi merupakan upaya mempertinggi produktivitas per biomassa tadi. Demikian pula, dalam hal ternak, diseleksi hewan yang memiliki daging yang banyak dengan kandungan lemak dan tulang sedikit. Dengan menurunkan keanekaragaman (dan meningkatkan keseragaman), penggunaan energi untuk mengelola dapat lebih cermat (Soeriaatmadja, 1989). Namun, yang sering terjadi adalah bahwa aliran energi menjadi sangat cepat keluar masuk lingkungan pertanian akibat keseimbangan lingkungan terganggu. Ini dapat dilihat pada saat adanya gangguan jasad pengganggu tanaman (JPT), di mana diperlukan upaya pengendalian JPT yang memerlukan energi. Demikian pula, pengolahan tanah telah menyebabkan kerusakan tanah tidak terhindarkan lagi. Berdasarkan hukum termodinamika I dan II, disebutkan bahwa energi alamraya selalu tetap, dan tidak semua energi yang ada dapat dipakai untuk melakukan kerja. Artinya, dari energi yang dimasukkan ke dalam sistem pertanian, ada sejumlah energi yang terbuang percuma, dan itu berarti pemborosan energi yang keluar sistem pertanian, dan merupakan penambahan energi di alamraya. Akibatnya, energi yang diboroskan akan menyumbang kepada derajat ketidak-teraturan sistem (entropi) alamraya (Soemarwoto, 1994).

Agroekosistem di Indonesia umumnya berada dalam lingkungan tropika basah. Ciri utama lingkungan tropika basah adalah (a) suhu, kelembaban, curah hujan, dan penyinaran tinggi sepanjang tahun, (b) produksi biomassa berlimpah, (c) perombakan bahan organik relatif cepat, dan (d) sistem perharaan bersifat tertutup (closed nutrient recycling). Pada kondisi ini, kesuburan tanah berada dalam keadaan stabil. Saat hutan dibuka untuk keperluan pertanian, maka terjadi kehilangan hara yang besar dalam bentuk (a) penebangan pohon dan pengangkutan biomas saat land-clearing, (b) erosi dan aliran permukaan yang dipercepat, dan (c) pengangkutan biomas saat panen tanaman semusim (Syekhfani, 1991). Dalam keadaan ini stabilitas kesuburan tanah menjadi terganggu.

Dalam keadaan stabil, baik ditinjau dari keanekaragaman hayati, maupun kesuburan tanah, terdapat keseimbangan antara predator dan mangsa, serta antara inang dan parasit. Namun, sebagaimana yang telah disebutkan, tanaman budidaya tidak memberikan hasil yang optimum bila tumbuh dalam keadaan seperti itu, sebab terlampau besar hajat manusia akan hasil tanaman. Dengan demikian tanaman harus dibudi-dayakan di lingkungan pertanaman. Permasalahannya adalah, keanekaragman hayati serta stabilitas kesuburan tanah yang tinggi merupakan merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap jasad pengganggu tanaman (JPT). Timbulnya kasus hama dan penyakit pada daerah pertanian yang monokultur bukanlah hal yang luar biasa. Salah satunya disebabkan kurangnya sumber makanan bagi hama, atau sumber nutrisi bagi parasit, sebab tanaman dan hasilnyapun dapat dikonsumsi oleh JPT, yang – dalam keadaan stabil di hutan – boleh jadi sesungguhnya bukan JPT, akan tetapi karena keterdesakannya, maka JPT itupun memangsa tanaman.

Pemahaman yang kontemplatif dan holistik terhadap berbagai faktor yang menopang keseimbangan alam sangat diperlukan. Ini berguna untuk menjembatani kebutuhan akan perlunya menjaga keseimbangan alam dengan kebutuhan perlunya meningkatkan produk tanaman bagi kesejahteraan masyarakat. Beban ekonomi tinggi yang dipikul masyarakat, khususnya pada sektor pertanian menunjukkan terjadinya inefisiensi ekonomi, misal masuknya beberapa item yang sesungguhnya tidak diperlukan dalam paket kredit pertanian. Oleh karenanya sistem pertanian diupayakan berbiaya rendah, bermasukan energi rendah, serta berkelanjutan (low energy input and sustainable agriculture), agar biaya-biaya yang tidak perlu dikeluarkan sebagai belanja produksi dapat dihemat, dan hanya biaya yang diperlukan saja yang dikeluarkan. Tentu saja tidak mudah mengubah praktek pertanian yang telah bertahun-tahun dijalankan, bahkan mungkin menjadi budaya masyarakat, karena bertahun-tahun, secara perlahan-lahan, kearifan berbudidaya telah direbut dari tangan petani. Secara sistemik, revolusi hijau, intensifikasi, dan modernisasi dalam corak produksi pertanian, mengurangi kemandirian petani Indonesia untuk menentukan sendiri keputusan penting yang harus diambil petani terhadap pertaniannya. Atas nama pertumbuhan produksi, ketahanan pangan dan swasembada beras, petani dipaksakan untuk memakai benih ungul, pupuk kimia, pestisida buatan pabrik. Pengetahuan lokal atas cara-cara memproduksi pupuk sendiri dari bahan asli setempat; mengendalikan hama secara alami, yakni dengan memelihara keseimbangan antara musuh dan hama; bahkan memuliakan benih sendiri, telah tersingkirkan. Secara sengaja, kearifan ini dihancurkan oleh teknologi revolusi hijau. Sudah lama petani hanya menjadi ‘tukang tani’ di lahannya sendiri. Tukang menyemprotkan pestisida, tukang menaburkan pupuk, tukang menanam benih ‘unggul’. Segalanya harus dibeli, segalanya harus didapatkan dari luar agroekosistem petani, sementara perdagangan input-input pertanian ini dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar. Sistem seperti ini bukan sistem yang ideal. Dengan demikian, sistem pertanian ini perlu dikoreksi agar tidak boros energi, alamiah, dan berpihak kepada petani.

II. Sistem Ketahanan Tanaman terhadap JPT, tinjuauan sub-sistem Internal dan Eksternal

Sistem ketahanan tanaman secara internal bersifat menurun, yaitu diwariskan dari induk kepada turunannya. Substansi yang bertanggung jawab dalam pewarisan sifat-sifat ini adalah molekul-molekul DNA yang tersusun dalam gen. Seleksi alamiah telah menyisihkan antara genotipe tahan dengan yang rentan, yang tahan terus berjaya, sedangkan yang rentan musnah. Sesungguhnya, yang tahanpun selalu mendapat serangan JPT, namun, dari waktu ke waktu terdapat kenaikan tingkat ketahanan dalam populasinya. Akhirnya, di suatu tempat yang spesifik, tercapailah keseimbangan yang non destruktif antara JPT dengan inangnya. Genotipe yang berada dalam keseimbangan ini memiliki ketahanan horizontal yang tinggi, artinya tahan terhadap banyak jenis JPT yang spesifik lokasi. Ketahanan ini ditopang oleh sejumlah gen ketahanan, sehingga ketahanan horisotal ini disebut juga ketahanan poligenik.

Para pemulia dan ahli hama-penyakit tumbuhan dapat mempercepat proses seleksi ini dengan memelihara, memilih, dan membiakkan individu-individu yang tahan, mengadakan hibridisasi sehingga dapat diperoleh genotipe-genotipe yang variasinya lebih besar, dan mengadakan infeksi buatan untuk meniru seleksi alamiah. Infeksi buatan ini biasanya melibatkan hanya satu atau dua jenis JPT, sehingga diperoleh satu genotipe tanaman yang tahan. Ketahanan seperti ini ditopang oleh satu gen tahan, sehingga disebut ketahanan monogenik. Ketahanan ini sangat spesifik JPT, artinya, genotipe itu hanya tahan hanya pada satu jenis JPT saja. Ketahanan ini disebut ketahanan vertikal.

Menurut Semangun (1996), biaya untuk mengelola JPT dengan genotipe yang tahan relatif lebih murah. Hal ini dibanding dengan pengelolaan dengan cara-cara seperti penyemprotan, karantina dan sebagainya. Permasalahan dalam memperoleh genotipe tahan meliputi : (a) tidak ada sumber gen tahan, (b) Sumber gen tahan sangat berbeda dengan tanaman yangakan ditingkatkan, (c) Gen sulit bergabung, (d) Ras JPT terlalu banyak, (e) Virulensi JPT meningkat, dan (f) ketahanan genotipe menurun akibat penyerbukan silang. Dikaitkan dengan keanekaragman hayati yang sebagian besar dimiliki oleh komunitas hutan, maka hutan merupakan sumber gen untuk tujuan pemuliaan tanaman. Hal ini karena di hutan masih banyak dijumpai kerabat-kerabat liar tanaman budidaya. Aplikasi hal ini misalnya pada proses pemuliaan padi, sumber gen diperoleh dari keanekaragaman genetik baik dari pool tanaman budidaya, maupun dari kerabat liar padi (Sitch dan Romero, 1990).

Dalam penerapan genotipe tahan terhadap JPT ini, diperlukaan pertimbangan-pertimbangan, yaitu apakah memilih genotipe tahan horisontal atau vertikal. Diringaskan oleh Robinson (1971) dalam Semangun (1996), bahwa jika (a) sering mengganti genotipe, (b) JPT patogen memiliki r dan t yang tinggi, (c) ingin menghindarkan dampak vertifolia, (d) ingin menghindarkan dampak perang biologi, (d) mutabilitas JPT patogen / hama tinggi, (e) pola penanaman monokultur, (f) jika proteksi kurang maksimal, maka seyogyanya dipilih genotipe dengan ketahanan horisontal. Sebaliknya, (a) menghadapi JPT patogen tipe bunga tunggal, (b) Lokus penanaman memiliki musim tertutup, (c) dibantu dengan genotipe dengan ketahanan horisontal,

III. Ketahanan Tanaman, Ketahanan Pangan, dan Ketahanan Ekonomi.

Kajian mengenai ketahanan tanaman merupakan kajian yang strategis, karena menyangkut kebutuhan pokok yang sangat esensi, sepanjang yang dimaksud tanaman di sini adalah tanaman pangan. Hubungan ketahanan tanaman dengan ketahanan pangan di sini jelas, yaitu bahwa tanaman adalah penghasil bahan pangan, dan bilamana tanaman gagal panen maka bahan pangan tidak diperoleh. Namun demikian, selain faktor tanaman, ketahanan pangan dipengaruhi pula dengan faktor ekonomi, yaitu daya beli masyarakat atas bahan pangan dimaksud. Media massa Indonesia akhir-akhir ini memberitakan timbulnya kasus gizi buruk, kekurangan kalori, gizi, dan protein, yang melanda kota-kota dan pelosok Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan merupakan sub sistem ketahanan nasional yang paling rapuh (Krishnamurti, 2003). Gejala goyahnya ketahanan pangan ini sesungguhnya sudah jauh hari dapat dilihat, bahkan sejak masa pemerintahan orde lama.

Disebutkan oleh Krishnamurti (2003), bahwa tonggak ketahanan pangan adalah keanekaragaman pangan, yaitu prasyarat pokok dalam konsumsi pangan yang cukup mutu dan gizinya. Program Penganeka-ragaman pangan yang dilakukan selama ini cenderung didominasi oleh peran pemerintah (pusat). Dalam program tersebut terdapat banyak konsep tetapi kurang diturunkan dalam bentuk langkah implementatif yang melibatkan stake-holder, dan tidak memiliki target kuantitatif yang disepakati bersama. Implementasi program banyak yang terjebak dalam proyek-proyek parsial yang kurang berkesinambungan. Disamping itu, peran Departemen Pertanian sangat menonjol dalam program yang disusun, sedangkan departemen lain cenderung untuk enggan berperan aktif di dalamnya. Dalam hal ini terlihat adanya hambatan koordinasi baik secara horizontal maupun vertikal.

Keaneka-ragaman pangan memiliki dua dimensi pokok, yaitu keaneka-ragaman dalam pola menu konsumsi pangan dimana terdapat keaneka-ragaman bahan makanan yang dikonsumsi sehingga memenuhi kebutuhan gizi yang bermutu dan seimbang (pola makan yang memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin, dll); dan keaneka-ragaman sumber bahan pangan untuk masing-masing jenis gizi yang dibutuhkan (protein diperoleh dari hewan, ikan, tumbuhan; dan seterusnya). Kedua dimensi tersebut sangat erat keterkaitannya dan saling mempengaruhi.

Sejak krisis ekonomi dan moneter terjadi, kemampuan sebagian masyarakat untuk membeli bahan pangan pokok menurun, seiring meningkatnya jumlah orang miskin. Namun gejala ini lebih banyak menimpa wilayah perkotaan dari pada di pedesaan. Hal ini merupakan buah dari proses kultural yang memarjinalkan bahan pangan selain beras, sehingga ketika ekonomi goyah, maka masyarakat kesulitan untuk memperoleh beras, sebab hanya beras-lah satu-satunya bahan pangan yang dapat memenuhi kebutuhan pokok. Sebaliknya, masyarakat pedesaan yang telah terbiasa mengkonsumsi berbagai jenis bahan pangan relatif tidak terpengaruh oleh krisis ekonomi tersebut. Secara ekonomi masyarakat kota yang menggantungkan hidup dari pekerjaan tunggal menjadi sangat goyah ketika terjadi krisis ekonomi, sementara masyarakat desa masih survival, sebab mata pencahariannya beraneka macam, mulai bercocok tanam, beternak, memelihara ikan, dan lain sebagainya. Rupanya ada benang merah antara kata ‘ketahanan’ dengan ‘keaneka-ragaman’. Ketahanan tanaman horisontal ditopang oleh keaneka-ragaman gen, dan mampu bertahan menghadapi sejumlah macam JPT yang spesifik lokasi. Ketahanan ini mantap dalam dimensi ruang (wilayah), yang berbeda dengan ketahananan tanaman verikal, yang ditopang oleh gen tunggal, sehingga tanamman sangat tahan terhadap satu jenis JPT, namun tidak mampu menghadapi banyak JPT yang spesifik lokasi. Ketahanan pangan juga ditopang oleh keaneka-ragaman bahan pangan, baik dilihat dari pola menu, maupun sumber bahan pangan. Orang yang tidak dapat melakukan penganeka-ragaman bahan pangan dalam arti melakukan substitusi dan variasi bahan pangan akan goyah ketahanan pangannya. Di pihak lain, orang yang survival adalah yang dapat mengkonsumsi dan membuat variasi pangannya. Akhirnya, ketahanan ekonomi, ditopang oleh matapencaharian. Ketahanan ekonomi yang mantap tentunya diperoleh dari kemampuan profesi atau keahlian. Ketahanan ekonomi horisontal ditopang kemampuan menguasai berbagai keahlian, sebagaimana profesi petani dalam arti luas, yang bertahan di tengah hempasan krisis ekonomi moneter. Ketahanan ekonomi vertikal ditopang oleh satu jenis keahlian profesi, atau menggantungkan hidup pada satu jenis pekerjaan. Hal ini berbahaya, sebab suatu saat pekerjaan itu tidak diperlukan lagi, akibatnya terjadi PHK dan sebagainya. Model ketahanan apa yang akan kita pilih untuk diterapkan pada pertanian tanaman pangan dan praktek kehidupan ekonomi kita?

IV. Pertanian Ideal, Pendekatan Model keanekaragaman hayati yang diperkaya Pengelolaan Hama Terpadu (PHT)

Revolusi hijau yang praktek pertaniannya diwakili oleh intensifikasi padi secara monokultur jelas memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah mampu meningkatkan produksi pangan dunia, namun, ketidak-adilan dalam distribusi masih menyisakan seperlima penduduk dunia yang kelaparan. Kekurangannya, terletak pada input produksi yang bermuatan energi tinggi (High energy input Agriculture = HEIA), seperti pupuk kimia dan pestisida sintetik, dengan penjadwalan ketat sehingga berpeluang mencemari lingkungan dan mempengaruhi kehidupan JPT.

Impian orang yang hidup pada milenium ini adalah mendapatkan kondisi pertanian ideal yaitu yang ekologis, ekonomis, adil, manusiawi, dan luwes (Reinjtjes et al., 1992). Hal ini disebut pertanian yang berkelanjutan, yang masih merupakan pendekatan-pendekatan, baik dari sisi akademis maupun praktis.

Dapatlah dikatakan bahwa model pertanian yang mendekati ideal adalah praktek pertanian yang berangsur-angsur meninggalkan praktek monokultur, dan beralih ke praktek polikultur. Praktek ini mengarah kepada meningkatnya keanekaragaman hayati, yang dapat berbentuk tumpang sari, budidaya pagar, maupun wanatani. Jika praktek ini dapat diperkaya dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), maka praktek ini lebih berwawasan lingkungan.

PHT memiliki empat prinsip yaitu (a) budidaya tanaman sehat, (b) konservasi musuh alami JPT, (c) pengamatan mingguan, dan (d) Penguasaan petani terhadap keadaan agroekosistemnya. Pengelolaan Hama terpadu (PHT) ini mengedepankan peran musuh alami (predator, parasitoid, patogen) dengan tujuan memanipulasi populasi hama agar berada di bawah aras luka (Pedigo, 1999). Pengertian hama di sini sesungguhnya tidak sempit sebagaimana dalam arti JPT kelas insekta, maupun mamalia, namun disejajarkan kepada semua jenis JPT, karena konsep PHT ini telah diadopsi untuk mengelola JPT lainnya, seperti penyakit tumbuhan, dan gulma (Bayot, et al., 2000). Dimensi PHT ini meliputi dimensi vertikal, yaitu pendekatan pengendalian dengan memadukan semua taktik dan teknik yang mungkin dilakukan, serta dimensi horisontal, yaitu pendekatan pengendalian dengan melihat bahwa sasaran pengendalian meliputi beberapa JPT.

Setelah menyadari kelebihan dan kekurangan praktek revolusi hijau di atas, mari kita bandingkan dengan praktek pertanian saat ini. Menurut para peserta, apakah model yang saat ini kita praktekkan sudah benar? Ini hanya dapat dijawab jika pertanian itu berhasil meningkatkan kualitas lingkungan dan kualitas pelakunya.

V. Penutup

Tulisan ini tidak bersifat teknis, apalagi sampai melahirkan cara pengendalian. Tulisan ini lebih bertujuan mengajak peserta untuk melakukan perenungan terhadap model dari sistem pertanian kini kita lakukan dan di masa mendatang. Mudah-mudahan bermanfaat.

Pustaka

Bayot, R.G., A.K. Watson, dan K. Moody, 2000. Control of Paddy Weed By Plant Pathogens in the Philippines. Abstract. IRRI. (website : www.irri.org)

Krishnamurthi, B. 2003. Penganekaragaman pangan: pengalaman 40 tahun dan tantangan ke depan. Artikel tahun II no.7. J. Ekonomi Rakyat (website: www.ekonomirakyat.org)

Pedigo, L.P. 1999. Entomology and pest management. Prentice Hall, Upper Saddle River. N.J. 07458. Third Edition. Hlm. 39.

Reijntjes, C., B. Haverkort, dan Ann Water-Bayer. 1992. Pertanian masa depan. Terj. Sukoco. Kanisius, Yogyakarta. 270 hlm.

Semangun, H. 1996. Pengantar ilmu penyakit tumbuhan. UGM Press, Yogyakarta.754 hlm.

Sitch L.A. dan G.O. Romero, 1990. Attemp to overcome prefertilization incompatibility in intraspecific and intergeneric crosses involving Oryza sativa L. Genome 33: 321-327.

Soemarwoto, O. 1994. Ekologi, lingkungan hidup dan pembangunan. Jambatan, Jakarta.365 hlm.

Soeriaatmadja, R.E.1989. Ilmu lingkungan. Pustaka ITB, Bandung. 133 hlm.

Syekhfani, 1991. Pengeloaan kesuburan tanah dalam mempertahankan produksi pertanian berkelanjutan di lahan kering. Makalah kuliah perdana PPS Unibraw, Malang. 19 hlm.



[1] ) Disajikan sebagai pengantar diskusi pada acara pelatihan Peningkatan Kemampuan Petugas dalam Penanganan Daerah Penyangga Produksi, diselenggarakan oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Direktorat Jendral Bina Produksi Tanaman Pangan Departemen Pertanian Republik Indonesia, dilaksanakaan di Samarinda, 28 Juni – 01 Juli 2005

[2] ) Lektor dalam mata kuliah Pengendalian Gulma Terpadu, pada PS Ilmu Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (e-mail: rice_blast@plasa.com)