Monday, February 11, 2013

Prinsip budidaya padi dengan metode SRI


  1. Seleksi benih, hanya benih yang baik yang akan ditanam.  Gunakan campuran air dan garam, beri indikator telur.  Jika telur mengapung, maka  air garam dapat digunakan untuk menyeleksi benih.  Benih yang mengapung disisihkan, dan hanya yang tenggelam yang ditanam
  2. Siapkan pembibitan 'mobile' yaitu pembibitan kering di dalam bak perkecambahan yang mudah dibawa, misalnya besek bambu 
  3. Tanamlah bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (hss) yaitu ketika bibit masih berdaun 2 helai.
  4. Bibit ditanam satu tanaman per lubang dengan jarak 30 x 30, atau 35 x 35 atau lebih jarang.
  5. Memindahkan tanaman bibit harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati‐hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal.
  6. Pemberian air maksimal 2 cm (macak‐macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai tanah pecah (Irigasi berselang/terputus)
  7. Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2‐3 kali dengan interval 10 hari
  8. Dianjurkan menggunakan Pupuk Organik, Kompos, atau pupuk hijau sehingga akan cepat mengembalikan kesuburan tanah serta dapat menghilangkan gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

Saturday, August 4, 2012

Mimpi mewujudkan pertanian lestari untuk padi

Jika ada pertanyaan, masalah apakah yang paling relevan dibicarakan selama bertahun-tahun, maka jawabannya tidak lain adalah masalah pangan. Hal ini tidak lain karena pangan merupakan persoalan umat manusia sepanjang tahun, dan penduduk dunia setiap waktu senantiasa bertambah jumlahnya. Dekade 60’an, telah ditandai dengan diimplementasikannya program “revolusi hijau” di berbagai negara, yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan khususnya biji-bijian seperti gandum, padi, dan jagung. Di Indonesia, program ini sangat terkenal dengan panca usaha-nya, dan memang dapat mendongkrak produksi padi. Tahun 1969 produksi padi Indonesia masih berada pada level 12,2 juta ton, namun dengan program tersebut hingga 1984 dapat dihasilkan sekitar 25 juta ton. hal mana menyebabkan Soeharto dianugerahi penghargaan oleh FAO karena berhasil membawa Indonesia menjadi swasembada beras. Swasembada beras 1984 diraih dengan kebijakan at all cost: swasembada adalah segala-galanya. Tak hanya political will, pemerintah juga merekayasa kelembagaan dan memberikan dukungan dana penuh. Setiap departemen bekerja secara harmoni untuk sawsembada. Paket teknologi bagi petani peserta program dibantu melalui kredit pada bank pemerintah khususnya BRI, namun diberikan dalam bentuk natura seperti benih padi unggul, pupuk, dan pestisida. Pemanfaatan pestisida merupakan upaya preventif atas serangan jasad pengganggu tanaman, untuk mempertahankan tingkat produktivitas per luas lahan dilakukan secara terjadwal. Masa keemasan sebagai Negara surplus padi tidak berlangsung lama. Jika dilihat, periode dari 1969-1984 merupakan masa peningkatan produksi hingga mencapai swasembada, maka pada periode berikutnya, 1984-1998 merupakan titik balik, di mana Indonesia kembali harus mengimpor beras. Pada saat periode peningkatan produksi, produksi padi tumbuh rata-rata 5,1% per tahun, sementara pertumbuhan permintaan rata-rata 4,65% per tahun, sehingga terjadi surplus, sebaliknya, pertumbuhan produksi padi pada periode 1984-1998 hanya 1,7% per tahun, dengan pertumbuhan permintaan 4,16% per tahun, sehingga wajar terjadi impor sebab sisi penawaran lebih kecil. Melihat kembali periode 1969-1984, dapat diperkirakan bahwa kondisi tanah masih sehat, sebab itulah ada respon positif tanaman atas input teknologi yang diberikan sehingga produktivitas meningkat. Sebagai sebuah sistem hidup, tanah memiliki arti penting bagi produksi padi. Dengan digunakannya paket panca usaha benih unggul, yang memang dirancang menjadi tanggap terhadap input teknologi berupa pengolahan tanah, pemupukan kimia, pestisida, dan pengairan, maka penggunaan benih unggul membuat petani menjadi sangat tergantung atas berbagai input teknologi. Aplikasi pupuk dan pestisida kimiawi yang wajib saat itu adalah merupakan bagian dari penyebab menurunnya daya dukung lahan, sebab tanah yang memiliki aspek fisik, kimia dan biologi telah diperlakukan tidak seimbang. Dengan pemupukan dan pemberian pestisida yang intensif, alih-alih akan meningkatkan hasil, justru sebaliknya membuat kerusakan pada tanah. Sifat kimia dan fisik tanah menjadi berubah, demikian pula sifat biologinya. Input bahan organik yang seharusnya memiliki peran penting dalam menentukan kesehatan tanah untuk mendukung padi kurang diperhatikan sebab petani lebih suka membakar jerami padinya ketimbang membuat kompos jerami. Ini membuat bahan organik tanah menjadi rendah dan mengakibatkan berkurangnya jasad hidup tanah, sebab selain sumber energinya berkurang. Panas akibat pembakaran jerami ikut serta mematikan sejumlah besar jasad hidup tanah. Penggunaan traktor pun telah mengesampingkan peran hewan ternak sebagai pembajak di sawah, mengakibatkan kurangnya input organik ke tanah sawah, sebagai konsekuensi berkurangnya ternak pembajak. Sisa (residu) pestisida kimia mengakibatkan pula berkurangnya jasad hidup tanah, dan mematikan jasad non target atau jasad bukan sasaran, akibatnya terjadi pergeseran peran jasad hidup, yang tadinya bukan penting sebagai hama malah berubah status menjadi hama. Jadi, pestisida kimiawi nampaknya bukan mematikan hama saja, tetapi justru juga ikut serta menciptakan “hama” baru. Karena itulah model “revolusi hijau” ini bukanlah model pembangunan pertanian yang ideal. Pembangunan berkelanjutan atau lestari yang dianut Indonesia saat ini sebagai konsep pembangunan antergenerasi, penting untuk dipahami, dan juga dipraktekkan. Bagian dari pembangunan lestari itu adalah Pertanian Lestari, yang bertumpu pada empat prinsip yaitu prinsip ekonomi, sosial, lingkungan hidup, dan spiritual. Pertanian lestari sesungguhnya merupakan best practice agriculture orang Indonesia pada masa sebelum “revolusi hijau”. Dulu, limbah dari pertanian dibuat kompos dan dikembalikan lagi ke tanah. Keanekaragaman hayati juga lebih tinggi sebab petani memelihara berbagai tanaman selain padi, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, hewan ternak, serta ikan. Praktek lainnya misalnya melakukan rotasi tanaman, yang secara ekologis membantu menekan penyakit dan serangan hama tanaman, dan menanam tanaman unggul lokal. Praktek ini selalu dikawal dengan memelihara dan merawat ternak sesuai kebutuhannya, serta menggembalakan secara alamiah, karena ternak adalah sumber ekonomi sekaligus sumber bahan organik penting bagi orang di perdesaan. Di masa setelah era “revolusi hijau” yang produktivitasnya tinggi, maka pertanian lestari masih sebuah “mimpi” alih-alih kenyataan. Hal ini disebabkan karena dalam prakteknya pertanian lestari “belum mampu” menunjukkan kinerja meningkatkan hasil secara kuantitatif, padahal jumlah penduduk semakin meningkat Demikian juga dalam hal dukungan pemerintah, pertanian lestari belum didukung political will yang kuat, rekayasa teknologi dan kelembagaan, serta dukungan dana penuh, sebagaimana dukungan kepada “revolusi hijau” di masa lalu. Pada tataran teknis, ditemukannya mikro organisme pengompos cepat, metode penanaman system rice intensification (SRI) yang mampu meningkatkan jumlah anakan dan anakan produktif padi per rumpun, diadaptasi kembali model mina padi dan bebek padi di sawah, serta makin banyaknya temuan pestisida nabati kekayaan masyarakat lokal, ini semua masih merupakan awal perjuangan menwujudkan mimpi pertanian lestari itu. Dengan demikian, jalan masih panjang. Namun demikian jika tekad pemerintah kuat pasti akan terwujud. Sudah banyak kisah sukses petani bersertifikat organik yang meraup untung dari pertanian lestari mereka, karena mereka dapat memberikan jaminan produk pertanian mereka sehat, sebab ditanam dari tanah yang sehat, dan diproses dengan bahan-bahan yang alami. Jadi mewujudkan petani sejahtera melalui pertanian lestari bukalah sesuatu yang mustahil. Saat ini pemerintah telah menetapkan target surplus beras 10 juta ton dalam empat tahun ke depan, atau kira-kira 47,4 juta ton dari total produksi tahun 2010. Bersamaan itu, usaha tani, terutama di Jawa, sudah mendekati titik jenuh. Pertumbuhan produksi banyak disumbang oleh pencetakan sawah dan intensitas penanaman, bukan oleh produktivitas. Inilah momentumnya jika pemerintah ingin mewujudkan pertanian lestari sebagai basis produksi padi. Pemerintah harus memiliki political will untuk mewujudkannya, lakukanlah rekayasa kelembagaan petani, beri pendampingan yang cukup untuk mencerdaskan petani dengan teknologi yang berwawasan lingkungan, perbaiki atau bangun infrastruktur seperti bendungan dan saluran irigasi, lakukan pencetakan sawah, bantu permodalan petani dengan mendirikan bank khusus pertanian, dan titik beratkan pembangunan pertanian itu untuk masyarakat perdesaan, dan bukan keberpihakan pada pertanian padat modal. Dengan keberpihakan pemerintah kepada petani secara all out, akan terbangun kerjasama yang saling menguntungkan. Lakukan diversifikasi pangan agar konsumsi perkapita beras 139,15 kg/tahun dapat ditekan. Pangan lokal yang sumbernya beragam harus kembali digalakkan. Juga, paling penting untuk diingat, jagalah jangan sampai terjadi kerusakan lingkungan akibat kesalahan penggunaan teknologi sebagaimana di masa “revolusi hijau” yang lalu. Wallahu a’lam. (Naskah ini sudah dimuat di Tribun kaltim berturut-turut tanggal 2 dan 3 Agustus 2012 masing-masing pada halaman 5)

Friday, June 1, 2012

Soal Statistika Agribisnis 2012 1. Seorang peneliti ingin mempelajari hubungan antara intensitas serangan hama (%) dengan dosis insektisida tertentu (mL/L) Dilakukanlah pengukuran pada intensitas serangan hama yang diberi perlakuan insektisida dosis tertentu, dengan data sebagai berikut (data pada gambar) Hitung: a. Persamaan regresi menggunakan matrix (nilai 25) b. Uji b1 dengan uji t 5% dua arah, dan uji F, pada taraf 5% satu arah (nilai 25) c. Hitung koefisien korelasi linier dan koefisien determinasinya, dan uji dengan uji t taraf 5% dua arah (nilai 25) 2. Suatu pengujian korelasi diperoleh harga t= 4, dan r =0,88. Berapakah harga t tabel 5% yang diperlukan untuk pengujian, dengan harga n dibulatkan ke bawah (nilai 25)

Gambar 1, data regresi korelasi soal no 1.

Thursday, December 29, 2011

take home exam 'rancob 2011' dari pak encik

Kerjakan soal ini di rumah anda, gunakan hanya lembar ms-excell beserta formula yang sudah diajarkan untuk membantu menyelesaikannya (selain MS excell dengan formulanya, lembar kerja anda tidak akan dinilai).
kumpulkan ke e-mail: rancob2011@gmail.com, selambat-lambatnya rabu 4 Januari 2012, pukul 23.59 wita


Sebuah percobaan faktorial 3x2x4 telah dilakukan untuk menguji konsentrasi herbisida (C), varietas (V) dan interaksi C*V. Hasil tanaman diterakan pada gambar terlampir.





hitunglah:
a. sidik ragam secara lengkap (nilai 50)
b. ujilah pengaruh-pengaruh sederhana dan interaksinya dengan uji F (nilai 20)
c. ujilah dengan BNT 5% jika konsentrasi nyata (nilai 10)
d. ujilah dengan BNT 5% jika varietas nyata (nilai 10)
e. ujilah dengan BNT 5% jika interaksi C*V nya nyata (nilai 10)

selamat bekerja, semoga sukses

Lama dan Baru

assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh
sebentar lagi 2011 akan berganti dengan 2012. orang bersuka ria menatap ke depan dan berharap berkah melimpah. ayo kita renungkan kawan, bukan jagung bakar atau BBQ di malam itu makna ke depannya, bukan pula bergelas2 minuman penghangat menunggu detik 00.00 nya, bukan pula dansa dan canda tawa....

tapi, makna itu akan terselip di setiap langkah dan laku kita terhadapNya, dan terhadap sesama, dalam setiap asa dan pinta, dalam setiap doa dan kerja, dalam setiap dharma dan karya

lama dan baru akan sama, kalau dalam baru masih seperti yang dulu
lama dan baru akan beda jika dalam baru tidak seperti yang dulu

wassalam
wallahu a'lam bissawab

Thursday, December 23, 2010

Pemenang dan Pecundang

Sudah jelas apa kepentingan pecundang itu, yang penuh dengan rencana, namun semua rencana itu penuh dengan rekayasa.
sudah jelas apa pula kehendak pecundang itu, yang penuh dengan nafsu angkara, namun semua kehendak itu penuh dengan tipudaya.
maka hati-hatilah wahai pemenang...... atas perilaku pecundang itu.

Saturday, June 6, 2009

PENAWARAN PUPUK ORGANIK "SHITRIPLUS"






LAB ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAPERTA UNMUL Menawarkan pupuk organik merk "SHITRIPLUS" Pupuk ini telah terbukti mendukung pertumbuhan tanaman, baik hortikultura (tanaman hias) maupun tanaman pangan. Pupuk dibuat dari jerami, dedak, dan pupuk kandang yang telah didekomposisi, dan diperkaya dengan mineral Ca yang bersumber dari tepung kulit telur, serta mikroorganisme antagonis Trichoderma sp. yang bermanfaat melindungi tanaman dari patogen tular tanah.

Peminat dapat langsung datang ke Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Faperta Unmul, l. Tanah Grogot 1, Gedung C-15 lantai 3, atau melalui kontak HP: 08125803068,

Friday, June 5, 2009

PELATIHAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) DATANG KE TEMPAT ANDA


Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) mulai dibudidayakan pada tahun 1900 dan jamur tiram kelabu (Pleurotus sajor caju) pada tahun 1974. Untuk memproduksi kedua spesies jamur tersebut sebagai bahan makanan manusia, salah satu faktor yang perlu diperhatikan yaitu tersedianya substrat sederhana dan murah. Pada umumnya substrat yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah serbuk gergaji.

Adapun karakteristik pertumbuhan jamur tiram pada baglog serbuk gergaji yaitu dalam jangka waktu antara 40-60 hari seluruh permukaan baglog sudah rata ditumbuhi oleh misellium berwarna putih. Satu sampai dua minggu setelah baglog dibuka biasanya akan tumbuh tunas dalam 2-3 hari akan menjadi badan buah yang sempurna untuk dipanen.

Pertumbuhan badan buah pada waktu panen telah menunjukkan lebar tudung antara 5-10 cm. Produksi jamur dilakukan dengan memanen badan buah sebanyak 4-5 kali panen dengan rerata 100 g jamur setiap panen. Adapun jarak selang waktu antara masing- masing panen adalah 1-2 minggu.

Kategori pelatihan:
Pembibitan: 2 hari. Biaya Rp 750.000,-/orang fasilitas: modul, blocknote pulpen, bahan/alat lab, snack, makan siang, sertifikat, dan oleh-oleh: bibit 1 botol

Budidaya : 1 hari, biaya Rp 500.000,- /orang, fasilitas: modul, blocknote pulpen, bahan/alat lab, snack, makan siang, sertifikat, dan oleh-oleh: baglog

Semua peserta pelatihan mendapat sertifikat.

Jika anda berombongan, dan membawa 9 peserta lainnya, anda akan mendapat potongan harga 10%

Pelatihan di Lab IHPT Faperta Unmul, direncanakan pertengahan bulan Juni 2009 yang akan datang. Untuk in house training di mana trainer datang ke lokasi kelompok, akan dilakukan kapanpun, sesuai dengan kelas yang menginginkan.

Pelatihan ini ditawarkan minimum untuk (10) sepuluh orangi. Bila berminat hubungi 0541 7798912

Eceng gondok (Eichhornia crassipes Mart. Solm.)


Eceng gondok (Eicchornia crassipes Mart. Solm) selain terdapat melimpah juga cenderung mengganggu. Namun demikian di balik ketidak-tahuan orang terhadap keberadaannya itu bnyak potensi yang belum termanfaatkan. Eceng gondok ternyata juga mempunyai beberapa manfaat antara lain sebagai bahan untuk kerajinan, sebagai adsorben logam yang berbahaya dan juga sebagai pakan ternak, namun sampai sekarang enceng gondok tetap dianggap sebagai tanaman pengganggu. Oleh karena itu banyak upaya dilakukan untuk memberantasnya walaupun amat sulit karena pertumbuhannya yang amat cepat. Enceng gondok sebenarnya mengandung lignoselulosa, sedangkan selulosa merupakan bahan untuk pembuatan kertas, selain itu, dengan kandungan selulosanya, enceng gondok bisa juga digunakan sebagai bahan pembuatan bioetanol yang sekarang ini amat diperlukan untuk mengatasi berkurangnya produksi minyak dunia.

Dengan pengelolaan saluran terdapat penumpukan biomassa, maka dapat dilakukan suatu pemanfaatan alternatif terhadap enceng gondok ini dengan jalan pembuatan briket arang. Kandungan selulosa dan senyawa organik pada enceng gondok berpotensi memberikan nilai kalor yang cukup baik. Dengan demikian briket arang dari enceng gondok ini dapat dimanfaatan sebagai bahan bakar alternatif, disamping dapat membuat dampak yang sangat baik pula bagi lingkungan.

Di samping bio arang, eceng gondok dapat pula dibuat sebagai bahan baku biogas. Intinya untuk bio gas ini yang dimanfaatkan adalah gas yang dihasilkan dari proses fermentasi biologisnya.

Monday, May 18, 2009

Pemanasan global

Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca (disalin dari wikipedia)

Monday, April 6, 2009

Resah

Bagaimana rasanya bahagia?
bahagia rasanya adalah tidak kurang suatu apa
bagaimana rasanya tidak kurang suatu apa?
karena yang dibutuhkan semua ada
seperti apa semua ada
ketika ingin maka tersedia
bagaimana caranya menyediakan apa yang kita inginkan?
nah itu dia,
hiraukah kita dengan cara yang kita lakukan?
bahkan,
ketika kita melakukan hal yang tidak lazim
maka hati kita tdak akan bahagia,
sebab
hati kita pasti menolaknya

Sunday, March 1, 2009

Wisata Ekologis Interaktif sebagai Alternatif Konservasi Anggrek Berbasis Pariwisata

Permasalahan yang dihadapi dalam pelestarian flora khususnya anggrek alam di Indonesia kian hari semakin bertambah komplek, bukan hanya karena semakin menyempit dan rusaknya habitat, namun juga karena bentuk-bentuk eksploitasi tak bertanggung jawab seperti perdagangan anggrek alam tak terkendali. Dengan berbagai permasalahan tersebut, tak elak lagi kepunahan kehidupan anggrek di alam tidak sekedar isapan jempol para pemerhati lingkungan, namun saat ini benar-benar sudah berada dititik kritis dimana laju kepunahan tersebut akan merangkak mulai dari species-species pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali-NTT dan sekitarnya, kemudian Papua. Bahkan penulis berkeyakinan, Sumatera dan Sulawesi akan mengalami kepunahan ekosistem anggrek di alam pada 2015 bila tidak ada langkah-langkah signifikan yang segera dilakukan untuk mengantisipasi permasalahan tersebut. Hal ini berdasarkan pada perbandingan laju kerusakan dan eksploitasi di alam yang sangat amat jauh lebih cepat dibanding regenerasi populasi anggrek secara alami yang membutuhkan proses panjang hingga puluhan tahun. Kerusakan hutan tentu berimbas secara langsung pada rusaknya populasi anggrek di alam. Laju kerusakan hutan berjalan demikian cepatnya, bahkan dalam 1 hari luasan 5127,12 hektar dapat habis seketika. Jangan bangga dulu, karena pada detik inipunpun luas hutan dinegara kita tidak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Data FAO menyebutkan bahwa setiap tahunnya rata-rata 1,871 juta hektar luas hutan kita telah habis. Pada tahun 2005 luas hutan Indonesia yaitu 88,495 juta hektar, namun tahun 2006 yang lalu, angka ini terus menurun hingga 86,624 juta hektar. Dari data tersebut dapat dibayangkan berapakah jumlah populasi anggrek alam yang terkena imbasnya. Angka diatas belum ditambah dengan angka kerusakan populasi anggrek di alam akibat laju eksploitasi tak terkendali oleh para pemburu dan pedagang anggrek tak bertanggung jawab. Lalu, bagaimana dengan laju regenerasi dan rehabilitasi populasi anggrek di alam??? Di propinsi DIJ sendiripun tak lebih dari 10 ha per 5 tahun.
Masih dapatkah kita para pecinta anggrek Indonesia berdiam diri???

Produk hukum yang telah dibuat untuk mengatur pelestarian alam termasuk didalamnya pelestarian flora dan fauna di Indonesia sudah lama diundangkan. Antara lain UU No.5 th 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, PP No. 7 th 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dan PP No.8 th 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar. Disamping itu, Indonesia telah meratifikasi konvensi CITES tentang perdagangan international species-species tumbuhan dan satwa sejak tahun 1978, namun sampai saat ini perdagangan liar tumbuhan dan satwa yang dilindungi masih saja banyak terjadi tanpa ada kebijakan dan kesepakatan bersama yang jelas antara pihak-pihak terkait.

Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia memiliki segudang potensi alam yang berprospek cerah pada segala bidang. Potensi inilah yang nantinya dimanfaatkan sebagai kunci alternatif strategi perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Salah satunya yaitu untuk dikembangkan sebagai obyek penunjang dunia pariwisata nasional. Dunia pariwisata menjadi sangat penting karena merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia dalam menunjang pergerakan perekonomian di tingkat bawah baik skala daerah maupun nasional. Selain mampu memberi income langsung kepada pemda setempat, sektor pariwisata secara langsung/tak langsung juga memberi imbas pada pergerakan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di sekitar kawasan obyek wisata. Saat ini pola kepariwisataan domestic maupun mancanegara mulai banyak melirik pada obyek wisata yang menawarkan khasanah keindahan alam yang jauh dari kebisingan kota dan berkesan natural namun tetap menunjukan nilai-nilai pelestarian ekologis. Oleh karena itu, kepariwisataan alam kemudian berkembang munuju pola wisata ekologis yang sering disebut sebagai ecotourism dan wisata minat khusus atau special interest tourism. Kedua pola wisata ini dinilai menjamin tetap terpeliharanya keberadaan obyek dan daya tarik wisata alam pada khususnya.

Salah satu bentuk program alternatif dalam mengembangkan pola wisata ekologis (ecotourism) adalah kegiatan perlindungan anggrek alam sebagai organisme yang terancam punah dan juga habitat tempat hidup anggrek alam. Program ecotourism disini lebih menitikberatkan pada alternative solusi untuk program regenerasi serta rehabilitasi anggrek alam dalam mendukung konservasi anggrek secara langsung. Mengingat status kawasan hutan dan kawasan konservasi secara administrative masuk sebagai wilayah pemerintah daerah serta keadaan sosial ekonomi masyarakat kawasan hutan yang selalu berhubungan langsung dengan permasalahan eksploitasi anggrek alam. Maka konservasi anggrek alam yang dilakukan adalah berbasis masyarakat lokal. Pengembangan keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan konservasi anggrek ini akan menjadi kelompok yang mandiri dalam pengelolaan pelestarian anggrek diwilayahnya. Perlunya pembentukan Forum Konservasi Aggrek Alam oleh kelompok tani hutan di tiap-tiap wilayah tingkat Kabupaten sebagai awal keterlibatan kelompok tani hutan yang terorganisir dalam upaya pelestarian anggrek alam di tingkat Kabupaten. Kelompok tani hutan inilah yang nantinya berlaku sebagai agen eksploitor anggrek alam yang “legal” dan terkendali. Anggrek alam ini nantinya dikembangkan melalui proses budidaya untuk menjadi komoditas unggulan dalam paket wisata ekologis.

Salah satu komponen penting dalam suksesnya skenario wisata ekologis adalah desain paket wisata itu sendiri. Lingkup wisata ekologis itu sendiri memiliki basis utama pada area dan kawasan alam lainnya, mirip dengan paket wisata alam lainnya. Hanya saja, perlu ada karakteristik tersendiri berupa adanya aktivitas langsung pembelajaran/pendidikan mengenai kelestarian ekologis. Oleh karena itu, paket wisata perlu dikemas se-interaktif mungkin agar pengunjung tidak sekedar memperoleh efek “refreshing” namun juga memperoleh pengetahuan tentang lingkungan hidup. Kunci utama dari paket wisata ekologis ini adalah “interaksi”. Yaitu berusaha menciptakan kondisi interaksi aktif (interaktif) antara pengunjung dengan komponen-komponen obyek wisata ekologis yang ada. Berbicara mengenai konsep interaktif, maka dalam aplikasinya paket wisata ini dapat dikemas dengan berbagai aktifitas bertema ecology education termasuk didalamnya tentang konservasi.

Paket wisata ekologis yang ditawarkan berupa:

*

Obyek kawasan konservasi baik in-situ maupun ek-situ yang menyajikan koleksi-koleksi tanaman hutan tahunan dalam desain natural maupun artistic layaknya kebun botani.
*

Kemudian adanya habitat buatan bagi berbagai jenis anggrek alam layaknya “showroom” yang menampilkan dinamisme kehidupan anggrek di habitatnya. Misal showroom anggrek epifit, leafless orchid (anggrek akar), anggrek terrestrial, anggrek litofit, anggrek semi epifit dan sebagainya. Setiap melewati masing-masing showroom, pemandu wisata dapat menjelasakan berbagai hal berkenaan dengan habitat anggrek, pola adaptasinya terhadap lingkungan habitat, mekanisme fisiologis, adaptasi morfologi, sisi botani maupun siklus hidupnya dalam satu tahun. Fungsi pemandu wisata ini dapat digantikan dengan liflet atau audio aktif yang berada di masing-masing showroom.
*

Selain itu dalam kawasan konservasi tersebut perlu dibuat suatu petak-petak khusus sebagai habitat buatan bagi anggrek alam. Petak khusus ini dapat berupa hamparan tanah bermulsa organic sebagai habitat anggrek terrestrial, berupa area dengan pepohonan tahunan sebagai habitat anggrek epifit, atau berupa tumpukan gelondongan kayu lapuk sebagai habitat anggrek semi epifit. Pada tiap-tiap petak inilah para pengunjung secara aktif dapat melakukan penanaman anggrek alam sesuai dengan aturan-aturan yang telah dibuat. Para kelompok tani hutan akan kembali berperan sebagai supplier bibit anggrek alam yang dijual dengan harga standar yang jauh lebih murah daripada harga jual komersial umum. Anggrek inilah yang nantinya yang akan menjadi komoditas utama pada paket wisata ekologis. Anggrek alam yang ditawarkan pada paket wisata ini bukan untuk dibawa pulang oleh pengunjung, melainkan untuk ditanam langsung di kawasan konservasi tersebut. Bahkan aktifitas budidaya anggrek para petani hutan ini dapat juga dijadikan obyek wisata berkenaan dengan proses konservasi itu sendiri.

Supaya dapat lebih menarik perhatian pengunjung terhadap skenario konservasi ini, maka pada setiap anggrek yang akan ditanam oleh pengunjung, diberikan sebuah label personal antiair yang dapat ditulis nama si pengunjung atau pesan-pesan khusus seperti “I love you”, sebagai ungkapan privasi masing-masing pengunjung serta sebuah kartu ucapan terimakasih sekaligus kartu identitas sebagai masyarakat peduli konservasi anggrek. Label personal ini natinya dicantumkan di tanaman anggrek yang ditanam oleh pengunjung. Sedangkan kartu identitas ini nantinya difungsikan layaknya identitas member suatu komunitas. Sehingga saat pengunjung tersebut datang kembali, maka dia akan memperoleh perlakuan khusus dan akan merasa bangga karena label personal tersebut tetap melekat pada anggrek yang menjadi tontonan pengunjung-pengunjung lainnya. Tentu saja interaksi yang diharapkan tidak hanya sampai pada proses penanaman, namun hingga proses pemeliharaan pun diharapkan turut berinteraksi, misal dengan melakukan penyemprotan pupuk atau air, sehingga muncul rasa memiliki, menjaga dan menghargai, yang berbuah rasa kebanggaan pribadi apabila tanaman anggrek yang dipeliharanya tumbuh baik, karena disitu terdapat symbol identitas pribadi sebagai alat pengakuan sosial.

Dengan scenario konservasi yang melibatkan interaksi langsung dari pengunjung, diharapkan terjadi suatu pembelajaran nilai-nilai penghargaan ekologis serta pemahaman langsung terhadap makna konservasi kepada para pengunjung. Hal inilah yang menjadi kelebihan dari Grand-design dari paket wisata ekologis dibanding wisata alam lainnya. Grand-design paket wisata ekologis interaktif ini diharapkan dapat mencapai hasil yang diinginkan sebagai upaya penyelamatan anggrek alam tanpa merugikan masyarakat lokal di sekitar kawasan konservasi (kelompok tani hutan). Bentuk wisata ekologi ini diharapkan pula dapat memberikan alternative pendapatan lainnya kepada masyarakat yaitu sebagai jasa pemandu wisata, penginapan, anggrek alam sebagai cinderamata dll. Bentuk wisata ekologis ini akan bertahan dan terjamin keberlanjutannya apabila kawasan konservasi tersebut tidak terdesak untuk kepentingan lain. Untuk mendukung itu, instansi terkait dan masyarakat luas baik melalui LSM atau forum-forum swadaya diharapkan dapat memfasilitasi segala upaya peningkatan pemberdayaan masyarakat untuk mendorong terciptanya wisata terbatas sebagai alternative yang dapat menjamin terpeliharanya kehidupan anggrek alam yang selaras dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat lokal. Pengembangan fungsi kawasan konservasi dalam paket wisata ekologis interaktif ini diharapkan terus dilakukan agar terdapat banyak jalur pilihan bagi para pengunjung. Demikian sekilas pemikiran dari penulis mengenai langkah-langkah alternative yang dapat dilakukan dalam upaya konservasi kehidupan anggrek alam yang tentu saja banyak kekurangan disana-sini serta ha-hal lainl yang perlu dikembangkan lebih lanjut sesuai karakteristik wilayah masing-masing daerah.

salam konservasi!!
disalin dari : Destario Metusala 07 (anggrek.org)

Tuesday, February 24, 2009

IDENTIFIKASI GULMA YANG BERASOSIASI DENGAN TANAMAN TEBU TELUR (Saccharum edule Sacc.) DALAM KERANGKA PENGENDALIAN DI TENGGARONG, KUTAI KARTANEGARA

E.Akhmad Syaifudin
PS. IHPT Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman
Jl. Pasir Belengkong 1 Samarinda Telp. (0541) 748651, 749313. e-mail:rice_blast@plasa.com.

ABSTRACT

A field survey to study the quantitative data of weed species from ‘tebu telur’ plantation in Tenggarong, Kutai Kartanegara, was done on August up to November 2007. Sampling method used was Quadrat Method. The result showed that the broed-leaves weed group were the dominant one over the area of ‘tebu telur’. Their SDR were : Chromolaena odorata (17,97), Ageratum conyzoides (10,64), Chorchorus olitorius (9,47), Imperata cylindrica (9,15), and Abutilon hemsleyanum (6,53). Thunbergia fragrans (6,20), Melothria guadalupensis (5,32), Cyperus brevifolius (4,73), Bracharia mutica (3,56), ‘unidentified Pteridophyta (3,56), Emilia sonchifolia (3,26), unidentified Cyperaceae, Pennisetum clandestinum and Solanum involucratum was 2,97, respectively, and choncrus brownii, Crassocephalum crepidioides, Malachra fasciata, and Physalis minima was 2,68 respectively.

Keywords: weed, tebu telur.

Tuesday, August 26, 2008

Marhaban ya Ramadhan

Tidak terasa, sudah setahun dilewati. Pertanyaan paling besar adalah, seberapa banyak amal shaleh yang sudah kita lakukan? Mungkin harus lebih banyak lagi kita berkontemplasi untuk menjadi orang yang masuk kriteria beruntung. Matematika memang diperlukan di sini guna menajamkan analisis kita, berapa dari umur kita yang digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, untuk beristirahat, lalu, berapa yang telah kita buang-buang percuma?

Beruntung bagi ummat Muhammad, Allah menciptakan Ramadhan, yang disebutkan lebih baik dari seribu bulan, yang setiap detak amal diganjar berlipat-lipat, yang setiap tidur bermakna ibadah, yang dipeliharakan dari syaithan...

Beruntunglah orang yang mendapati Ramadhan, dan memanfaatkannya.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat ibadah dan menyadarkan semua kita akan makna pentingnya, khususnya bagi diri saya pribadi.

wassalam

Sunday, July 6, 2008



Nih.. kenangan waktu lebaran 2007 yang lalu, jj ke waduk riam kanan kalsel

Sunday, June 1, 2008

Kontribusi untuk mengisi globalisasi

Dunia ini semakin kecil. Hal ini setidak-tidaknya dapat ditinjau dari sisi lalu lintas informasi, dan komunikasi yang semakin canggih. Peristiwa yang detik ini terjadi di suatu tempat dapat dengan mudah diketahui oleh orang lain di belahan bumi lainnya dalam hitungan menit akibat bantuan informasi dan komunikasi yang demikian cepat. Pendeknya, yang demikian itu saat ini bukan hal sulit lagi. Lalu, kita mau apa?
Dengan semakin kecilnya dunia ini akan banyak hal yang mungkin kita lakukan. Untuk mengisi relung itu, marilah kita upayakan perbaikan pendidikan dan serta meningkatkan mutu etika. "Ah.... utopis" barangkali itu yang terpikirkan ketika membaca pikiran utama tulisan ini, tetapi itulah yang mungkin dilakukan melalui dunia maya ini. " Lalu bagaimana caranya?? "
Ok... mari mengerucutkan pemikiran lagi, taruhlah dunia ini nggak bisa kecil-kecil, sebab memang adanya gede, marilah kita memikirkan Indonesia, memikirkan Kalimantan Timur, memikirkan Samarinda, dimana di sini kita dapat memulai dan berperan.. "Udah???" marilah kita memikirkan apa yang bisa kita sumbangkan dalam hal pendidikan dan etika tadi??? "Udah???" Marilah kita memikirkan apa media yang kita gunakan untuk menyampaikan, menumpahkan gagasan, menuangkan pengetahuan kita, "Udah???" OK... sekarang saya mengajak anda memikirkan bangaimana kita membangun sebuah komunitas e-learning yang berisi berbagai pengetahuan yang dapat kita sumbangkan.
Nah, tunggu apa lagi?? lets do it... blog ini dapat digunakan untuk itu, dan saya siap. Saya tunggu posting anda, kirimkan ke sempaja@gmail.com. Sampai jumpa.

Friday, May 30, 2008

Harapan buat pemimpin baru Kaltim 2008

Gubernur Baru Kaltim 2008, kami rakyat Kaltim mengharapkan Bapak memimpin Kaltim seadil-adilnya, bijaksana, merakyat, mendengarkan dan memahami, serta menindaklanjuti janji Bapak kepada rakyat, sebab Bapak dipilih rakyat. Bila Bapak mendengarkan suara rakyat ini, InsyaAllah Bapak Amanah, dan didoakan rakyat, tetapi bila Bapak tidak mendengarkan, apalagi sampai tidak melaksanakan janji kepada Rakyat, Ingatlah, bahwa Allah telah mencatat janji Bapak dan akan memberikan keputusan seadil-adilnya atas perjanjian itu. Kami mendoakan senantiasa atas keselamatan Bapak beserta rakyat Kalimantan Timur.

Monday, May 19, 2008

ASPEK EKONOMI KEBERADAAN GAJAH DI SEBUKU KABUPATEN NUNUKAN

ABSTRAK

Kegiatan pertanian telah mengubah komunitas yang stabil tetapi produktivitas per biomas-nya rendah menjadi komunitas yang tidak stabil tetapi produktivitas per biomas-nya tinggi, dengan tambahan input waktu, tenaga, biaya dan energi. Aliran energi sering menjadi sangat cepat keluar masuk lingkungan bilamana komunitas yang tidak stabil tersebut terganggu. Gangguan ini antara lain akibat serangan hama tanaman. Untuk menghindari hal ini diperlukan alokasi sumberdaya untuk hama. Gajah sebagai hama harus ditangani dengan pendekatan alokasi sumberdaya lahan. Pemerintah memegang peranan penting sebagi regulator, dan para pihak berperan meningkatkan kesadaran dalam berbagi ruang. Aspek ekonomi keberadaan gajah ini adalah sebagai komponen wisata alam, diberdayakan sebagai alat transportasi, buangannya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas serta kompos, pemanfaatan gading untuk bahan kerajinan, serta menjadikan pusat studi satwa gajah Kalimantan.

Kata kunci: komunitas stabil dan tidak stabil, mengubah, alokasi sumberdaya, pemanfaatan.


I. Sistem Pertanian/Perkebunan dan Keseimbangan Lingkungan

Kegiatan pertanian telah mengubah komunitas hutan menjadi areal pertanian/perkebunan. Komunitas hutan memiliki stabilitas dan keanekaragaman hayati yang tinggi, tetapi “kurang bermanfaat” bagi manusia dalam arti produktivitas per biomassa-nya rendah (produk yang diambil bukan kayu). Kegiatan pertanian/perkebunan bertujuan mempertinggi produktivitas per biomassa, sehingga kawasan hutan yang memiliki banyak aneka tumbuhan dan satwa (heterogen), diubah menjadi lebih homogen, sehingga produktivitas per biomassa-nya tinggi. Kawasan yang telah diubah ini sering disebut pertanaman monokultur, secara ekologis berciri tidak mantap.

Untuk memantapkannya, perlu dilakukan pemberian input, seperti tenaga kerja, air, pupuk, pestisida, mekanisasi, dan bangunan-bangunan, yang kesemuanya berorientasi pada waktu, tenaga-pikiran, biaya dan energi. Dipilihnya genotipe padi dengan rumpun yang pendek dan jumlah bulir yang banyak dalam proses seleksi merupakan upaya mempertinggi produktivitas per biomassa tadi. Demikian pula, dalam hal ternak, diseleksi hewan yang memiliki daging yang banyak dengan kandungan lemak dan tulang sedikit. Dengan menurunkan keanekaragaman (dan meningkatkan keseragaman), penggunaan energi untuk mengelola dapat lebih cermat (Soeriaatmadja, 1989). Namun, yang sering terjadi adalah bahwa aliran energi menjadi sangat cepat keluar masuk lingkungan pertanian akibat keseimbangan lingkungan terganggu. Ini dapat dilihat pada saat adanya gangguan jasad pengganggu tanaman (JPT), di mana diperlukan upaya pengendalian JPT yang memerlukan energi. Demikian pula, pengolahan tanah telah menyebabkan kerusakan tanah tidak terhindarkan lagi. Berdasarkan hukum termodinamika I dan II, disebutkan bahwa energi alamraya selalu tetap, dan tidak semua energi yang ada dapat dipakai untuk melakukan kerja. Artinya, dari energi yang dimasukkan ke dalam sistem pertanian, ada sejumlah energi yang terbuang percuma, dan itu berarti pemborosan energi yang keluar sistem pertanian, dan merupakan penambahan energi di alamraya. Akibatnya, energi yang diboroskan akan menyumbang kepada derajat ketidak-teraturan sistem (entropi) alamraya (Soemarwoto, 1994).

Dalam keadaan stabil, baik ditinjau dari keanekaragaman hayati, maupun kesuburan tanah, terdapat keseimbangan antara predator dan mangsa, serta antara inang dan parasit. Namun, sebagaimana yang telah disebutkan, tanaman budidaya tidak memberikan hasil yang optimum bila tumbuh dalam keadaan seperti itu, sebab terlampau besar hajat manusia akan hasil tanaman. Dengan demikian tanaman harus dibudi-dayakan di lingkungan pertanaman. Permasalahannya adalah, keanekaragman hayati serta stabilitas kesuburan tanah yang tinggi merupakan merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap jasad pengganggu tanaman (JPT). Timbulnya kasus hama dan penyakit pada daerah pertanian yang monokultur bukanlah hal yang luar biasa. Salah satunya disebabkan kurangnya sumber makanan bagi hama, atau sumber nutrisi bagi parasit, sebab tanaman dan hasilnyapun dapat dikonsumsi oleh JPT, yang – dalam keadaan stabil di hutan – boleh jadi sesungguhnya bukan JPT, akan tetapi karena keterdesakannya, maka jasad itu menjadi “jasad pengganggu yang memangsa tanaman, bahkan membahayakan manusia.

Keberadaan Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) yang “turun gunung” ke perkebunan maupun kampung merupakan konsekuensi logis dari kegiatan pembukaan hutan, baik untuk pertanian/perkebunan, maupun untuk keperluan perambahan. Manusia menyebut gajah ini adalah hama yang merusak tanamannya. Ini menunjukkan kepentingan ekonomi lebih dari kepentingan ekologi, sebab tanaman budidaya lebih “penting” dibanding keberadaan gajah itu. Keseimbangan lingkungan baru setelah pembukaan hutan, yaitu areal pertanaman tidak lagi mampu memberikan daya dukung bagi sejumlah besar komponen ekosistemnya, termasuk gajah, karena hanya manusia yang berhak memanen produk tanaman/kebun di situ, oleh karenanya timbullah masalah ini.

Jalan tengah agar dapat menghindari besarnya kerugian, antara lain adalah dengan mengalokasikan sebagian sumberdaya untuk hama. Dalam praktek Pengendalian Hama Terpadu (PHT), prinsip berdampingan hidup dengan hama ini adalah sebuah pemikiran ekologi yang diimplementasikan dalam proses pengendalian hama. Alokasi ini misalnya berbentuk pemanenan sebagian besar hasil, dan membiarkan sebagian hasil lainnya untuk dimakan hama. Dalam hal ini petani tidak mendapatkan 100% hasil yang diharapkannya, namun hama yang memangsa - yang notabene adalah juga komponen ekosistem di situ – tetap ada dan terkendali populasinya, sebagai akibat bahan makanan yang mendukung hidupnya dipasok dalam jumlah tertentu dari hasil panen yang dibiarkan. Dalam hal ini alokasi tersebut sesungguhnya penting untuk mempertahankan keseimbangan lingkungan, sebab komponen ekosistem seperti hama itu, walaupun hingga saat ini yang dapat diketahu hanyalah adanya kerusakan yang ditimbulkan, namun sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa pasti ada manfaatnya, walaupun saat ini belum terlihat. Nilai penting (ekonomi) hama pada taraf ini adalah bahwa bila hama itu eksis, maka akan ada sejumlah hasil (atau sejumlah sumberdaya) yang dialokasikan.

Dalam pandangan ekonomi klasik, mengubah alokasi sumberdaya berarti mengalokasikan sebagian modal untuk hal yang ‘tidak produktif” dan secara ekonomi akan berarti memperbesar rugi, namun kenyatannya penyediaan bahan-bahan agrokimia seperti pestisida adalah juga mengalokasikan modal untuk mengendalikan hama, sehingga dua model alokasi sumberdaya ini sesungguhnya sesuatu yang sama.

II. Aspek ekonomi

Keberadaan gajah di luar negeri maupun di dalam negeri telah dimanfaatkan, maka gajah di Sebuku mungkin dapat pula dikelola sesuai dengan kebutuhan setempat. Usulan para pihak yang menghendaki adanya kawasan khusus untuk mendukung kehidupan gajah sangat mendasar sebagaimana yang disebutkan oleh yaitu memberi kesempatan kepada kawanan itu untuk hidup dan mencari makan. Untuk mengatasi masalah pokok yang mengakibatkan eksodus gajah ke perkebunan atau kampung adalah adalah mengatasi kekurangan tempat hidup dan mencari makan, sehingga alokasi luasan tertentu lahan untuk tempat hidup gajah perlu diwujudkan.

Berpikir tentang tempat mencari makan, adalah berpikir tentang lestarinya sumber-sumber makanan gajah tersebut, sumber air, pohon sebagai sumber daun dan buah, serta peneduh, dan yang paling penting adalah suasana yang tenang. Dalam kaitan ini tentu peranan pemerintah sebagai regulator sangat menentukan, dan harus diimbangi dengan kesadaran para pihak yang terlibat untuk memberi ruang bagi makhluk ini. Menurut Harto (2006), satu gajah Kalimantan membutuhkan habitat 400 hektar. Jika diasumsikan terdapat 50 gajah di Nunukan, diperlukan seluas 20.000 hektar lahan. Gajah Kalimantan mampu berjalan sejauh 2-2,5 kilometer per hari dengan kebutuhan makan 10 persen dari berat badan. Untuk memenuhi kondisi ideal ini berarti harus dilakukan pembangunan kawasan hutan perlindungan gajah.

Sisi penting (aspek) ekonomi gajah tersebut mungkin dapat dicapai, sebagaimana yang telah dicapai pada daerah-daerah atau negara dimana gajah sudah dikembangkan manfaatnya. Perkiraan manfaat ekonomi itu antara lain adalah:

1. Wisata alam

Kekayaan Kalimantan berupa satwa gajah ini tergolong berita “baru”, sebab baru terungkap di kalangan masyarakat awam, itupun karena adanya serangan gajah ke pekebunan dan perkampungan. Ini tentu akan menarik perhatian, oleh karenanya perlu dilakukan penataan ruang untuk kawasan perlindungan gajah ini dengan perangkat hukum, misalnya dalam bentuk peraturan daerah, atau peraturan/perundangan lainnya; perangkat fisik, misalnya penyediaan parit pembatas wilayah, pagar, jalan inspeksi, pos pengintai, serta perlengkapan komunikasi; perangkat biologis, yaitu pohon-pohon yang ditanam sebagai sumber pakan maupun tempat berlindung. Dengan adanya kawasan yang tertata seperti ini, kawasan di luar wilayah itu mendapat pengaruh, misalnya berkembangnya jalur dan alat transportasi, akomodasi, dan sebagainya. Pembangunan kawasan wisata di luar kawasan perlindungan gajah akan memberikan manfaat ekonomi.

Pelatihan gajah untuk dijadikan kendaraan akan menarik perhatian para wisatawan, terutama anak-anak, sebab mengendarai gajah merupakan suatu peristiwa yang langka. Selama ini hal itu hanya dapat dilihat pada sirkus atau di arena satwa, yang terdapat di kota besar di Jawa. Jika di Nunukan atau Sebuku ada atraksi tersebut, maka ini tentu merupakan suatu keunggulan kompetitif dalam dunia pariwisata Kabupaten Nunukan.

2. Alat angkut

Di Sri Lanka, India, Thailand, dan di Lampung, gajah yang telah jinak dimanfaatkan untuk atraksi, menggiring gajah liar, atau untuk transportasi terutama mengangkut peralatan di medan yang sulit. Hal ini sangat mungkin untuk dikembangkan di Sebuku, bilamana sarana dan prasarananya cukup, misalnya ada lokasi sekolah gajah, dilengkapi dengan instrukturnya. Lebih baik lagi bila ada pihak ke tiga yang mau membiayai, atau memanfaatkan gajah yang telah jinak tersebut, dengan tetap mengacu pada prinsip-prinsip ekologi.

3. Sumber bahan organik

Gajah adalah herbivora (Wikpiedia, 2007), sehingga bahan organik seperti tinja dan urin gajah berpeluang untuk dimanfaatkan. Manfaat itu antara lain sebagai bahan baku biogas, serta pupuk kandang. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri pada kondisi anaerob (tidak bersentuhan dengan udara). Bahan-bahan organik adalah bahan-bahan yang dapat terurai kembali menjadi tanah, antara lain sampah organik, yang setelah dihancurkan dan diberi perlakuan tertentu dicampur dengan tinja (sapi, babi, atau gajah) serta air sampai encer kemudian baru dimasukan ke dalam digester. Di dalam digester akan terjadi proses fermentasi oleh bakteri-bakteri, salah satunya adalah Methanogen bacterium. Hasil gas yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga, maupun industri di pedesaan, sebagai bentuk penghematan energi minyak bumi.

4. Bahan baku kerajinan

Gading gajah merupakan bahan mahal yang dicari orang. Pemanfaatan ini tentu membutuhkan banyak perangkat, antara lain perangkat hukum, sebab gajah adalah makhluk yang dilindungi undang-undang, dan perburuan untuk mendapatkan gading merupakan satu di antara penyebab matinya ribuan gajah di afrika, india, Sri Lanka, dan lain-lain. Kebutuhan lainnya dalam rangka memanfaatkan gading sebagai bahan baku kerajian adalah menyiapkan tenaga terampil yang mampu menangani gading yang dihasilkan.

5. Pusat studi satwa gajah

Pusat studi bermakna tempat mempelajari sesuatu. Di luar negeri gajah memang sudah banyak diteliti, namun sifat biologis dan sosial gajah Kalimantan ini masih perlu dipelajari. Hal ini berkaitan dengan adanya perbedaan DNA-nya dibanding DNA gajah Sumatera. Menurut Wikipedia (2007), Gajah adalah hewan herbivora. Ia menghabiskan 16 jam sehari untuk mengumpulkan makanan tanaman. Makanannya terdiri atas sedikitnya 50% rumput, ditambah dengan dedaunan, ranting, akar, dan sedikit buah, benih dan bunga. Karena gajah hanya mencerna 40% dari yang dimakannya, mereka harus mengonsumsi makanan dalam jumlah besar. Gajah dewasa dapat mengonsumsi 300 hingga 600 pon (140-270 kg) makanan per hari. Enam puluh persen dari makanan tersebut tertinggal dalam tubuh gajah tidak tercerna. Di atas merupakan hasil studi gajah pada umumnya. Hasil studi yang lebih spesifik untuk gajah Kalimantan dapat diperoleh dengan membuat kajian mendalam di habitat gajah Kalimantan ini. Dengan membangun pusat studi, maka kerjasama penelitian dengan berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung akan membuahkan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah, dan manfaat ilmiah.

III. Penutup

Sebagai satwa asli, yang secara ilmiah sudah dinyatakan berbeda dengan gajah Sumatera, maka keberadaan gajah Kalimantan ini adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Konflik manusia dengan gajah dalam mendapatkan sumber kehidupan hendaknya di minimalisasi dengan peran serta pemerintah dan para pihak yang memiliki kesadaran berbagi ruang. Kesadaran berbagi ruang ini akan memberi manfaat ekonomi dengan tambahan upaya pembinaan.

Daftar Pustaka

Harto, A. 2006. “Nenek Liar” Belantara Sebuku. WWF Indonesia (online)

Soemarwoto, O. 1994. Ekologi, lingkungan hidup dan pembangunan. Jambatan, Jakarta.365 p

Soeriaatmadja, R.E.1989. Ilmu lingkungan. Pustaka ITB, Bandung. 133p.

Wikipedia, 2007. Gajah. Wikipedia Indonesia (online)

Saturday, May 3, 2008

Sawit, nilai ekonomi, dan kompetisi manfaat

Kalimantan Timur merupakan propinsi yang tengah mengupayakan mengubah hidup dan nasib masyarakat menjadi lebih makmur dan sejahtera melalui pengembangan berbagai komoditas perkebunan, antara lain sawit. Hal ini sesungguhnya telah berlangsung sejak tahun 1980-an, dimulai di Kabupaten Paser. Saat ini, kebun sawit telah terhampar, mulai dari Nunukan di Utara, Bulungan, Berau, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, hingga Pasir di Selatan.

Produk utama pohon kelapa sawit yang dimanfaatkan adalah tandan buahnya yang menghasilkan minyak dari daging buah dan kernel (inti sawit). Minyak kelapa sawit adalah bahan untuk pembuatan : mentega, minyak goreng dan kue/biskuit, bahan industri tekstil, farmasi, kosmetika, gliserin, sabun, deterjen, pomade, dan sebagai bahan biofuel.

Ampas tandan kelapa sawit merupakan sumber pupuk kaliun dan berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik melalui fermentasi (pengomposan) aerob dengan penambahan mikroba alami yang akan memperkaya pupuk yang dihasilkan. Ampas inti sawit (bungkil) digunakan untuk makanan ternak, sedangkan batang dan pelepah daun merupakan bahan pembuat particle board.

Keluarnya Inpres No. 1/2006 mengenai Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai Bahan Bakar disambut baik oleh kalangan pengusaha swasta, BUMN serta perbankan untuk terjun dalam bisnis ini. Potensi pengembangan energi alternatif seperti biofuel/diesel di Indonesia sangatlah besar, dimana kebutuhan bahan bakar minyak baik untuk kepentingan industri maupun individu memiliki kecenderungan terus mengalami peningkatan. Selain itu, elastisitas permintaan energi seperti BBM ataupun listrik bersifat inelastis. Artinya kenaikan harga tidak banyak mempengaruhi penurunan permintaan. Hal ini terbukti, walaupun pemerintah selama tahun 2005 menaikkan harga BBM sebanyak 2 kali dengan kenaikan lebih dari 100%, permintaan akan bahan bakar tidak mengalami penurunan yang berarti. Saat ini, di tahun 2008, harga minyak mentah sudah gila-gilaan, dan masyarakat terpukul karenanya.

Keterpukulan masyarakat, bukan saja karena semakin mahalnya harga BBM, tapi juga karena barang-barang kebutuhan pokok sering menghilang dari pasaran, seperti minyak goreng, yang notabene berbahan baku CPO dari sawit. Permasalahannya adalah, bagaimana kompetisi manfaat ini dapat disikapi masyarakat, sebab masyarakat tidak mengerti mengenai substitusi, perdagangan internasional, maupun permasalahan ekonomi mikro dan makro, yang mereka tahu, adalah kebutuhan hari ini harus dpenuhi.