- Seleksi benih, hanya benih yang baik yang akan ditanam. Gunakan campuran air dan garam, beri indikator telur. Jika telur mengapung, maka air garam dapat digunakan untuk menyeleksi benih. Benih yang mengapung disisihkan, dan hanya yang tenggelam yang ditanam
- Siapkan pembibitan 'mobile' yaitu pembibitan kering di dalam bak perkecambahan yang mudah dibawa, misalnya besek bambu
- Tanamlah bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (hss) yaitu ketika bibit masih berdaun 2 helai.
- Bibit ditanam satu tanaman per lubang dengan jarak 30 x 30, atau 35 x 35 atau lebih jarang.
- Memindahkan tanaman bibit harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati‐hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal.
- Pemberian air maksimal 2 cm (macak‐macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai tanah pecah (Irigasi berselang/terputus)
- Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2‐3 kali dengan interval 10 hari
- Dianjurkan menggunakan Pupuk Organik, Kompos, atau pupuk hijau sehingga akan cepat mengembalikan kesuburan tanah serta dapat menghilangkan gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
blog ini merupakan curahan tertulis, cita-cita, maupun karya, sebagai bentuk tanggung jawab intelektual dan moral untuk pengembangan ilmu pengetahuan, persembahan dari Encik Akhmad Syaifudin, Faperta Unmul Samarinda.
Monday, February 11, 2013
Prinsip budidaya padi dengan metode SRI
Saturday, August 4, 2012
Mimpi mewujudkan pertanian lestari untuk padi
Friday, June 1, 2012
Thursday, December 29, 2011
take home exam 'rancob 2011' dari pak encik
kumpulkan ke e-mail: rancob2011@gmail.com, selambat-lambatnya rabu 4 Januari 2012, pukul 23.59 wita
Sebuah percobaan faktorial 3x2x4 telah dilakukan untuk menguji konsentrasi herbisida (C), varietas (V) dan interaksi C*V. Hasil tanaman diterakan pada gambar terlampir.

hitunglah:
a. sidik ragam secara lengkap (nilai 50)
b. ujilah pengaruh-pengaruh sederhana dan interaksinya dengan uji F (nilai 20)
c. ujilah dengan BNT 5% jika konsentrasi nyata (nilai 10)
d. ujilah dengan BNT 5% jika varietas nyata (nilai 10)
e. ujilah dengan BNT 5% jika interaksi C*V nya nyata (nilai 10)
selamat bekerja, semoga sukses
Lama dan Baru
sebentar lagi 2011 akan berganti dengan 2012. orang bersuka ria menatap ke depan dan berharap berkah melimpah. ayo kita renungkan kawan, bukan jagung bakar atau BBQ di malam itu makna ke depannya, bukan pula bergelas2 minuman penghangat menunggu detik 00.00 nya, bukan pula dansa dan canda tawa....
tapi, makna itu akan terselip di setiap langkah dan laku kita terhadapNya, dan terhadap sesama, dalam setiap asa dan pinta, dalam setiap doa dan kerja, dalam setiap dharma dan karya
lama dan baru akan sama, kalau dalam baru masih seperti yang dulu
lama dan baru akan beda jika dalam baru tidak seperti yang dulu
wassalam
wallahu a'lam bissawab
Thursday, December 23, 2010
Pemenang dan Pecundang
sudah jelas apa pula kehendak pecundang itu, yang penuh dengan nafsu angkara, namun semua kehendak itu penuh dengan tipudaya.
maka hati-hatilah wahai pemenang...... atas perilaku pecundang itu.
Saturday, June 6, 2009
PENAWARAN PUPUK ORGANIK "SHITRIPLUS"




LAB ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAPERTA UNMUL Menawarkan pupuk organik merk "SHITRIPLUS" Pupuk ini telah terbukti mendukung pertumbuhan tanaman, baik hortikultura (tanaman hias) maupun tanaman pangan. Pupuk dibuat dari jerami, dedak, dan pupuk kandang yang telah didekomposisi, dan diperkaya dengan mineral Ca yang bersumber dari tepung kulit telur, serta mikroorganisme antagonis Trichoderma sp. yang bermanfaat melindungi tanaman dari patogen tular tanah.
Peminat dapat langsung datang ke Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Faperta Unmul, l. Tanah Grogot 1, Gedung C-15 lantai 3, atau melalui kontak HP: 08125803068,
Friday, June 5, 2009
PELATIHAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) DATANG KE TEMPAT ANDA
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) mulai dibudidayakan pada tahun 1900 dan jamur tiram kelabu (Pleurotus sajor caju) pada tahun 1974. Untuk memproduksi kedua spesies jamur tersebut sebagai bahan makanan manusia, salah satu faktor yang perlu diperhatikan yaitu tersedianya substrat sederhana dan murah. Pada umumnya substrat yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah serbuk gergaji.
Adapun karakteristik pertumbuhan jamur tiram pada baglog serbuk gergaji yaitu dalam jangka waktu antara 40-60 hari seluruh permukaan baglog sudah rata ditumbuhi oleh misellium berwarna putih. Satu sampai dua minggu setelah baglog dibuka biasanya akan tumbuh tunas dalam 2-3 hari akan menjadi badan buah yang sempurna untuk dipanen.
Pertumbuhan badan buah pada waktu panen telah menunjukkan lebar tudung antara 5-10 cm. Produksi jamur dilakukan dengan memanen badan buah sebanyak 4-5 kali panen dengan rerata 100 g jamur setiap panen. Adapun jarak selang waktu antara masing- masing panen adalah 1-2 minggu.
Kategori pelatihan:
Pembibitan: 2 hari. Biaya Rp 750.000,-/orang fasilitas: modul, blocknote pulpen, bahan/alat lab, snack, makan siang, sertifikat, dan oleh-oleh: bibit 1 botol
Budidaya : 1 hari, biaya Rp 500.000,- /orang, fasilitas: modul, blocknote pulpen, bahan/alat lab, snack, makan siang, sertifikat, dan oleh-oleh: baglog
Semua peserta pelatihan mendapat sertifikat.
Jika anda berombongan, dan membawa 9 peserta lainnya, anda akan mendapat potongan harga 10%
Pelatihan di Lab IHPT Faperta Unmul, direncanakan pertengahan bulan Juni 2009 yang akan datang. Untuk in house training di mana trainer datang ke lokasi kelompok, akan dilakukan kapanpun, sesuai dengan kelas yang menginginkan.
Pelatihan ini ditawarkan minimum untuk (10) sepuluh orangi. Bila berminat hubungi 0541 7798912
Eceng gondok (Eichhornia crassipes Mart. Solm.)

Eceng gondok (Eicchornia crassipes Mart. Solm) selain terdapat melimpah juga cenderung mengganggu. Namun demikian di balik ketidak-tahuan orang terhadap keberadaannya itu bnyak potensi yang belum termanfaatkan. Eceng gondok ternyata juga mempunyai beberapa manfaat antara lain sebagai bahan untuk kerajinan, sebagai adsorben logam yang berbahaya dan juga sebagai pakan ternak, namun sampai sekarang enceng gondok tetap dianggap sebagai tanaman pengganggu. Oleh karena itu banyak upaya dilakukan untuk memberantasnya walaupun amat sulit karena pertumbuhannya yang amat cepat. Enceng gondok sebenarnya mengandung lignoselulosa, sedangkan selulosa merupakan bahan untuk pembuatan kertas, selain itu, dengan kandungan selulosanya, enceng gondok bisa juga digunakan sebagai bahan pembuatan bioetanol yang sekarang ini amat diperlukan untuk mengatasi berkurangnya produksi minyak dunia.
Dengan pengelolaan saluran terdapat penumpukan biomassa, maka dapat dilakukan suatu pemanfaatan alternatif terhadap enceng gondok ini dengan jalan pembuatan briket arang. Kandungan selulosa dan senyawa organik pada enceng gondok berpotensi memberikan nilai kalor yang cukup baik. Dengan demikian briket arang dari enceng gondok ini dapat dimanfaatan sebagai bahan bakar alternatif, disamping dapat membuat dampak yang sangat baik pula bagi lingkungan.
Di samping bio arang, eceng gondok dapat pula dibuat sebagai bahan baku biogas. Intinya untuk bio gas ini yang dimanfaatkan adalah gas yang dihasilkan dari proses fermentasi biologisnya.
Monday, May 18, 2009
Pemanasan global
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca (disalin dari wikipedia)
Monday, April 6, 2009
Resah
bahagia rasanya adalah tidak kurang suatu apa
bagaimana rasanya tidak kurang suatu apa?
karena yang dibutuhkan semua ada
seperti apa semua ada
ketika ingin maka tersedia
bagaimana caranya menyediakan apa yang kita inginkan?
nah itu dia,
hiraukah kita dengan cara yang kita lakukan?
bahkan,
ketika kita melakukan hal yang tidak lazim
maka hati kita tdak akan bahagia,
sebab
hati kita pasti menolaknya
Sunday, March 1, 2009
Wisata Ekologis Interaktif sebagai Alternatif Konservasi Anggrek Berbasis Pariwisata
Masih dapatkah kita para pecinta anggrek Indonesia berdiam diri???
Produk hukum yang telah dibuat untuk mengatur pelestarian alam termasuk didalamnya pelestarian flora dan fauna di Indonesia sudah lama diundangkan. Antara lain UU No.5 th 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, PP No. 7 th 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dan PP No.8 th 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar. Disamping itu, Indonesia telah meratifikasi konvensi CITES tentang perdagangan international species-species tumbuhan dan satwa sejak tahun 1978, namun sampai saat ini perdagangan liar tumbuhan dan satwa yang dilindungi masih saja banyak terjadi tanpa ada kebijakan dan kesepakatan bersama yang jelas antara pihak-pihak terkait.
Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia memiliki segudang potensi alam yang berprospek cerah pada segala bidang. Potensi inilah yang nantinya dimanfaatkan sebagai kunci alternatif strategi perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Salah satunya yaitu untuk dikembangkan sebagai obyek penunjang dunia pariwisata nasional. Dunia pariwisata menjadi sangat penting karena merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia dalam menunjang pergerakan perekonomian di tingkat bawah baik skala daerah maupun nasional. Selain mampu memberi income langsung kepada pemda setempat, sektor pariwisata secara langsung/tak langsung juga memberi imbas pada pergerakan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di sekitar kawasan obyek wisata. Saat ini pola kepariwisataan domestic maupun mancanegara mulai banyak melirik pada obyek wisata yang menawarkan khasanah keindahan alam yang jauh dari kebisingan kota dan berkesan natural namun tetap menunjukan nilai-nilai pelestarian ekologis. Oleh karena itu, kepariwisataan alam kemudian berkembang munuju pola wisata ekologis yang sering disebut sebagai ecotourism dan wisata minat khusus atau special interest tourism. Kedua pola wisata ini dinilai menjamin tetap terpeliharanya keberadaan obyek dan daya tarik wisata alam pada khususnya.
Salah satu bentuk program alternatif dalam mengembangkan pola wisata ekologis (ecotourism) adalah kegiatan perlindungan anggrek alam sebagai organisme yang terancam punah dan juga habitat tempat hidup anggrek alam. Program ecotourism disini lebih menitikberatkan pada alternative solusi untuk program regenerasi serta rehabilitasi anggrek alam dalam mendukung konservasi anggrek secara langsung. Mengingat status kawasan hutan dan kawasan konservasi secara administrative masuk sebagai wilayah pemerintah daerah serta keadaan sosial ekonomi masyarakat kawasan hutan yang selalu berhubungan langsung dengan permasalahan eksploitasi anggrek alam. Maka konservasi anggrek alam yang dilakukan adalah berbasis masyarakat lokal. Pengembangan keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan konservasi anggrek ini akan menjadi kelompok yang mandiri dalam pengelolaan pelestarian anggrek diwilayahnya. Perlunya pembentukan Forum Konservasi Aggrek Alam oleh kelompok tani hutan di tiap-tiap wilayah tingkat Kabupaten sebagai awal keterlibatan kelompok tani hutan yang terorganisir dalam upaya pelestarian anggrek alam di tingkat Kabupaten. Kelompok tani hutan inilah yang nantinya berlaku sebagai agen eksploitor anggrek alam yang “legal” dan terkendali. Anggrek alam ini nantinya dikembangkan melalui proses budidaya untuk menjadi komoditas unggulan dalam paket wisata ekologis.
Salah satu komponen penting dalam suksesnya skenario wisata ekologis adalah desain paket wisata itu sendiri. Lingkup wisata ekologis itu sendiri memiliki basis utama pada area dan kawasan alam lainnya, mirip dengan paket wisata alam lainnya. Hanya saja, perlu ada karakteristik tersendiri berupa adanya aktivitas langsung pembelajaran/pendidikan mengenai kelestarian ekologis. Oleh karena itu, paket wisata perlu dikemas se-interaktif mungkin agar pengunjung tidak sekedar memperoleh efek “refreshing” namun juga memperoleh pengetahuan tentang lingkungan hidup. Kunci utama dari paket wisata ekologis ini adalah “interaksi”. Yaitu berusaha menciptakan kondisi interaksi aktif (interaktif) antara pengunjung dengan komponen-komponen obyek wisata ekologis yang ada. Berbicara mengenai konsep interaktif, maka dalam aplikasinya paket wisata ini dapat dikemas dengan berbagai aktifitas bertema ecology education termasuk didalamnya tentang konservasi.
Paket wisata ekologis yang ditawarkan berupa:
*
Obyek kawasan konservasi baik in-situ maupun ek-situ yang menyajikan koleksi-koleksi tanaman hutan tahunan dalam desain natural maupun artistic layaknya kebun botani.
*
Kemudian adanya habitat buatan bagi berbagai jenis anggrek alam layaknya “showroom” yang menampilkan dinamisme kehidupan anggrek di habitatnya. Misal showroom anggrek epifit, leafless orchid (anggrek akar), anggrek terrestrial, anggrek litofit, anggrek semi epifit dan sebagainya. Setiap melewati masing-masing showroom, pemandu wisata dapat menjelasakan berbagai hal berkenaan dengan habitat anggrek, pola adaptasinya terhadap lingkungan habitat, mekanisme fisiologis, adaptasi morfologi, sisi botani maupun siklus hidupnya dalam satu tahun. Fungsi pemandu wisata ini dapat digantikan dengan liflet atau audio aktif yang berada di masing-masing showroom.
*
Selain itu dalam kawasan konservasi tersebut perlu dibuat suatu petak-petak khusus sebagai habitat buatan bagi anggrek alam. Petak khusus ini dapat berupa hamparan tanah bermulsa organic sebagai habitat anggrek terrestrial, berupa area dengan pepohonan tahunan sebagai habitat anggrek epifit, atau berupa tumpukan gelondongan kayu lapuk sebagai habitat anggrek semi epifit. Pada tiap-tiap petak inilah para pengunjung secara aktif dapat melakukan penanaman anggrek alam sesuai dengan aturan-aturan yang telah dibuat. Para kelompok tani hutan akan kembali berperan sebagai supplier bibit anggrek alam yang dijual dengan harga standar yang jauh lebih murah daripada harga jual komersial umum. Anggrek inilah yang nantinya yang akan menjadi komoditas utama pada paket wisata ekologis. Anggrek alam yang ditawarkan pada paket wisata ini bukan untuk dibawa pulang oleh pengunjung, melainkan untuk ditanam langsung di kawasan konservasi tersebut. Bahkan aktifitas budidaya anggrek para petani hutan ini dapat juga dijadikan obyek wisata berkenaan dengan proses konservasi itu sendiri.
Supaya dapat lebih menarik perhatian pengunjung terhadap skenario konservasi ini, maka pada setiap anggrek yang akan ditanam oleh pengunjung, diberikan sebuah label personal antiair yang dapat ditulis nama si pengunjung atau pesan-pesan khusus seperti “I love you”, sebagai ungkapan privasi masing-masing pengunjung serta sebuah kartu ucapan terimakasih sekaligus kartu identitas sebagai masyarakat peduli konservasi anggrek. Label personal ini natinya dicantumkan di tanaman anggrek yang ditanam oleh pengunjung. Sedangkan kartu identitas ini nantinya difungsikan layaknya identitas member suatu komunitas. Sehingga saat pengunjung tersebut datang kembali, maka dia akan memperoleh perlakuan khusus dan akan merasa bangga karena label personal tersebut tetap melekat pada anggrek yang menjadi tontonan pengunjung-pengunjung lainnya. Tentu saja interaksi yang diharapkan tidak hanya sampai pada proses penanaman, namun hingga proses pemeliharaan pun diharapkan turut berinteraksi, misal dengan melakukan penyemprotan pupuk atau air, sehingga muncul rasa memiliki, menjaga dan menghargai, yang berbuah rasa kebanggaan pribadi apabila tanaman anggrek yang dipeliharanya tumbuh baik, karena disitu terdapat symbol identitas pribadi sebagai alat pengakuan sosial.
Dengan scenario konservasi yang melibatkan interaksi langsung dari pengunjung, diharapkan terjadi suatu pembelajaran nilai-nilai penghargaan ekologis serta pemahaman langsung terhadap makna konservasi kepada para pengunjung. Hal inilah yang menjadi kelebihan dari Grand-design dari paket wisata ekologis dibanding wisata alam lainnya. Grand-design paket wisata ekologis interaktif ini diharapkan dapat mencapai hasil yang diinginkan sebagai upaya penyelamatan anggrek alam tanpa merugikan masyarakat lokal di sekitar kawasan konservasi (kelompok tani hutan). Bentuk wisata ekologi ini diharapkan pula dapat memberikan alternative pendapatan lainnya kepada masyarakat yaitu sebagai jasa pemandu wisata, penginapan, anggrek alam sebagai cinderamata dll. Bentuk wisata ekologis ini akan bertahan dan terjamin keberlanjutannya apabila kawasan konservasi tersebut tidak terdesak untuk kepentingan lain. Untuk mendukung itu, instansi terkait dan masyarakat luas baik melalui LSM atau forum-forum swadaya diharapkan dapat memfasilitasi segala upaya peningkatan pemberdayaan masyarakat untuk mendorong terciptanya wisata terbatas sebagai alternative yang dapat menjamin terpeliharanya kehidupan anggrek alam yang selaras dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat lokal. Pengembangan fungsi kawasan konservasi dalam paket wisata ekologis interaktif ini diharapkan terus dilakukan agar terdapat banyak jalur pilihan bagi para pengunjung. Demikian sekilas pemikiran dari penulis mengenai langkah-langkah alternative yang dapat dilakukan dalam upaya konservasi kehidupan anggrek alam yang tentu saja banyak kekurangan disana-sini serta ha-hal lainl yang perlu dikembangkan lebih lanjut sesuai karakteristik wilayah masing-masing daerah.
salam konservasi!!
disalin dari : Destario Metusala 07 (anggrek.org)
Tuesday, February 24, 2009
IDENTIFIKASI GULMA YANG BERASOSIASI DENGAN TANAMAN TEBU TELUR (Saccharum edule Sacc.) DALAM KERANGKA PENGENDALIAN DI TENGGARONG, KUTAI KARTANEGARA
PS. IHPT Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman
Jl. Pasir Belengkong 1 Samarinda Telp. (0541) 748651, 749313. e-mail:rice_blast@plasa.com.
ABSTRACT
A field survey to study the quantitative data of weed species from ‘tebu telur’ plantation in Tenggarong, Kutai Kartanegara, was done on August up to November 2007. Sampling method used was Quadrat Method. The result showed that the broed-leaves weed group were the dominant one over the area of ‘tebu telur’. Their SDR were : Chromolaena odorata (17,97), Ageratum conyzoides (10,64), Chorchorus olitorius (9,47), Imperata cylindrica (9,15), and Abutilon hemsleyanum (6,53). Thunbergia fragrans (6,20), Melothria guadalupensis (5,32), Cyperus brevifolius (4,73), Bracharia mutica (3,56), ‘unidentified Pteridophyta (3,56), Emilia sonchifolia (3,26), unidentified Cyperaceae, Pennisetum clandestinum and Solanum involucratum was 2,97, respectively, and choncrus brownii, Crassocephalum crepidioides, Malachra fasciata, and Physalis minima was 2,68 respectively.
Keywords: weed, tebu telur.
Tuesday, August 26, 2008
Marhaban ya Ramadhan
Beruntung bagi ummat Muhammad, Allah menciptakan Ramadhan, yang disebutkan lebih baik dari seribu bulan, yang setiap detak amal diganjar berlipat-lipat, yang setiap tidur bermakna ibadah, yang dipeliharakan dari syaithan...
Beruntunglah orang yang mendapati Ramadhan, dan memanfaatkannya.
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat ibadah dan menyadarkan semua kita akan makna pentingnya, khususnya bagi diri saya pribadi.
wassalam
Sunday, June 1, 2008
Kontribusi untuk mengisi globalisasi
Ok... mari mengerucutkan pemikiran lagi, taruhlah dunia ini nggak bisa kecil-kecil, sebab memang adanya gede, marilah kita memikirkan Indonesia, memikirkan Kalimantan Timur, memikirkan Samarinda, dimana di sini kita dapat memulai dan berperan.. "Udah???" marilah kita memikirkan apa yang bisa kita sumbangkan dalam hal pendidikan dan etika tadi??? "Udah???" Marilah kita memikirkan apa media yang kita gunakan untuk menyampaikan, menumpahkan gagasan, menuangkan pengetahuan kita, "Udah???" OK... sekarang saya mengajak anda memikirkan bangaimana kita membangun sebuah komunitas e-learning yang berisi berbagai pengetahuan yang dapat kita sumbangkan.
Nah, tunggu apa lagi?? lets do it... blog ini dapat digunakan untuk itu, dan saya siap. Saya tunggu posting anda, kirimkan ke sempaja@gmail.com. Sampai jumpa.
Friday, May 30, 2008
Harapan buat pemimpin baru Kaltim 2008
Monday, May 19, 2008
ASPEK EKONOMI KEBERADAAN GAJAH DI SEBUKU KABUPATEN NUNUKAN
ABSTRAK
Kegiatan pertanian telah mengubah komunitas yang stabil tetapi produktivitas per biomas-nya rendah menjadi komunitas yang tidak stabil tetapi produktivitas per biomas-nya tinggi, dengan tambahan input waktu, tenaga, biaya dan energi. Aliran energi sering menjadi sangat cepat keluar masuk lingkungan bilamana komunitas yang tidak stabil tersebut terganggu. Gangguan ini antara lain akibat serangan
Kata kunci: komunitas stabil dan tidak stabil, mengubah, alokasi sumberdaya, pemanfaatan.
I. Sistem Pertanian/Perkebunan dan Keseimbangan Lingkungan
Kegiatan pertanian telah mengubah komunitas hutan menjadi areal pertanian/perkebunan. Komunitas hutan memiliki stabilitas dan keanekaragaman hayati yang tinggi, tetapi “kurang bermanfaat” bagi manusia dalam arti produktivitas per biomassa-nya rendah (produk yang diambil bukan kayu). Kegiatan pertanian/perkebunan bertujuan mempertinggi produktivitas per biomassa, sehingga kawasan hutan yang memiliki banyak aneka tumbuhan dan satwa (heterogen), diubah menjadi lebih homogen, sehingga produktivitas per biomassa-nya tinggi. Kawasan yang telah diubah ini sering disebut pertanaman monokultur, secara ekologis berciri tidak mantap.
Untuk memantapkannya, perlu dilakukan pemberian input, seperti tenaga kerja, air, pupuk, pestisida, mekanisasi, dan bangunan-bangunan, yang kesemuanya berorientasi pada waktu, tenaga-pikiran, biaya dan energi. Dipilihnya genotipe padi dengan rumpun yang pendek dan jumlah bulir yang banyak dalam proses seleksi merupakan upaya mempertinggi produktivitas per biomassa tadi. Demikian pula, dalam hal ternak, diseleksi hewan yang memiliki daging yang banyak dengan kandungan lemak dan tulang sedikit. Dengan menurunkan keanekaragaman (dan meningkatkan keseragaman), penggunaan energi untuk mengelola dapat lebih cermat (Soeriaatmadja, 1989). Namun, yang sering terjadi adalah bahwa aliran energi menjadi sangat cepat keluar masuk lingkungan pertanian akibat keseimbangan lingkungan terganggu. Ini dapat dilihat pada saat adanya gangguan jasad pengganggu tanaman (JPT), di mana diperlukan upaya pengendalian JPT yang memerlukan energi. Demikian pula, pengolahan tanah telah menyebabkan kerusakan tanah tidak terhindarkan lagi. Berdasarkan hukum termodinamika I dan II, disebutkan bahwa energi alamraya selalu tetap, dan tidak semua energi yang ada dapat dipakai untuk melakukan kerja. Artinya, dari energi yang dimasukkan ke dalam sistem pertanian, ada sejumlah energi yang terbuang percuma, dan itu berarti pemborosan energi yang keluar sistem pertanian, dan merupakan penambahan energi di alamraya. Akibatnya, energi yang diboroskan akan menyumbang kepada derajat ketidak-teraturan sistem (entropi) alamraya (Soemarwoto, 1994).
Dalam keadaan stabil, baik ditinjau dari keanekaragaman hayati, maupun kesuburan tanah, terdapat keseimbangan antara predator dan mangsa, serta antara inang dan parasit. Namun, sebagaimana yang telah disebutkan, tanaman budidaya tidak memberikan hasil yang optimum bila tumbuh dalam keadaan seperti itu, sebab terlampau besar hajat manusia akan hasil tanaman. Dengan demikian tanaman harus dibudi-dayakan di lingkungan pertanaman. Permasalahannya adalah, keanekaragman hayati serta stabilitas kesuburan tanah yang tinggi merupakan merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap jasad pengganggu tanaman (JPT). Timbulnya kasus
Keberadaan Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) yang “turun gunung” ke perkebunan maupun kampung merupakan konsekuensi logis dari kegiatan pembukaan hutan, baik untuk pertanian/perkebunan, maupun untuk keperluan perambahan. Manusia menyebut gajah ini adalah
Jalan tengah agar dapat menghindari besarnya kerugian, antara lain adalah dengan mengalokasikan sebagian sumberdaya untuk
Dalam pandangan ekonomi klasik, mengubah alokasi sumberdaya berarti mengalokasikan sebagian modal untuk hal yang ‘tidak produktif” dan secara ekonomi akan berarti memperbesar rugi, namun kenyatannya penyediaan bahan-bahan agrokimia seperti pestisida adalah juga mengalokasikan modal untuk mengendalikan
II. Aspek ekonomi
Keberadaan gajah di luar negeri maupun di dalam negeri telah dimanfaatkan, maka gajah di Sebuku mungkin dapat pula dikelola sesuai dengan kebutuhan setempat. Usulan para pihak yang menghendaki adanya kawasan khusus untuk mendukung kehidupan gajah sangat mendasar sebagaimana yang disebutkan oleh yaitu memberi kesempatan kepada kawanan itu untuk hidup dan mencari makan. Untuk mengatasi masalah pokok yang mengakibatkan eksodus gajah ke perkebunan atau kampung adalah adalah mengatasi kekurangan tempat hidup dan mencari makan, sehingga alokasi luasan tertentu lahan untuk tempat hidup gajah perlu diwujudkan.
Berpikir tentang tempat mencari makan, adalah berpikir tentang lestarinya sumber-sumber makanan gajah tersebut, sumber air, pohon sebagai sumber daun dan buah, serta peneduh, dan yang paling penting adalah suasana yang tenang. Dalam kaitan ini tentu peranan pemerintah sebagai regulator sangat menentukan, dan harus diimbangi dengan kesadaran para pihak yang terlibat untuk memberi ruang bagi makhluk ini. Menurut Harto (2006), satu gajah
Sisi penting (aspek) ekonomi gajah tersebut mungkin dapat dicapai, sebagaimana yang telah dicapai pada daerah-daerah atau negara dimana gajah sudah dikembangkan manfaatnya. Perkiraan manfaat ekonomi itu antara lain adalah:
1. Wisata alam
Kekayaan Kalimantan berupa satwa gajah ini tergolong berita “baru”, sebab baru terungkap di kalangan masyarakat awam, itupun karena adanya serangan gajah ke pekebunan dan perkampungan. Ini tentu akan menarik perhatian, oleh karenanya perlu dilakukan penataan ruang untuk kawasan perlindungan gajah ini dengan perangkat hukum, misalnya dalam bentuk peraturan daerah, atau peraturan/perundangan lainnya; perangkat fisik, misalnya penyediaan parit pembatas wilayah, pagar, jalan inspeksi, pos pengintai, serta perlengkapan komunikasi; perangkat biologis, yaitu pohon-pohon yang ditanam sebagai sumber pakan maupun tempat berlindung. Dengan adanya kawasan yang tertata seperti ini, kawasan di luar wilayah itu mendapat pengaruh, misalnya berkembangnya jalur dan alat transportasi, akomodasi, dan sebagainya. Pembangunan kawasan wisata di luar kawasan perlindungan gajah akan memberikan manfaat ekonomi.
Pelatihan gajah untuk dijadikan kendaraan akan menarik perhatian para wisatawan, terutama anak-anak, sebab mengendarai gajah merupakan suatu peristiwa yang langka. Selama ini hal itu hanya dapat dilihat pada sirkus atau di arena satwa, yang terdapat di
2. Alat angkut
Di Sri Lanka,
3. Sumber bahan organik
Gajah adalah herbivora (Wikpiedia, 2007), sehingga bahan organik seperti tinja dan urin gajah berpeluang untuk dimanfaatkan. Manfaat itu antara lain sebagai bahan
4. Bahan
Gading gajah merupakan bahan mahal yang dicari orang. Pemanfaatan ini tentu membutuhkan banyak perangkat, antara lain perangkat hukum, sebab gajah adalah makhluk yang dilindungi undang-undang, dan perburuan untuk mendapatkan gading merupakan satu di antara penyebab matinya ribuan gajah di afrika,
5. Pusat studi satwa gajah
Pusat studi bermakna tempat mempelajari sesuatu. Di luar negeri gajah memang sudah banyak diteliti, namun sifat biologis dan sosial gajah
III. Penutup
Sebagai satwa asli, yang secara ilmiah sudah dinyatakan berbeda dengan gajah Sumatera, maka keberadaan gajah
Daftar Pustaka
Harto, A. 2006. “Nenek Liar” Belantara Sebuku. WWF Indonesia (online)
Soeriaatmadja, R.E.1989. Ilmu lingkungan. Pustaka ITB,
Saturday, May 3, 2008
Sawit, nilai ekonomi, dan kompetisi manfaat
Produk utama pohon kelapa sawit yang dimanfaatkan adalah tandan buahnya yang menghasilkan minyak dari daging buah dan kernel (inti sawit). Minyak kelapa sawit adalah bahan untuk pembuatan : mentega, minyak goreng dan kue/biskuit, bahan industri tekstil, farmasi, kosmetika, gliserin, sabun, deterjen, pomade, dan sebagai bahan biofuel.
Ampas tandan kelapa sawit merupakan sumber pupuk kaliun dan berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik melalui fermentasi (pengomposan) aerob dengan penambahan mikroba alami yang akan memperkaya pupuk yang dihasilkan. Ampas inti sawit (bungkil) digunakan untuk makanan ternak, sedangkan batang dan pelepah daun merupakan bahan pembuat particle board.
Keterpukulan masyarakat, bukan saja karena semakin mahalnya harga BBM, tapi juga karena barang-barang kebutuhan pokok sering menghilang dari pasaran, seperti minyak goreng, yang notabene berbahan baku CPO dari sawit. Permasalahannya adalah, bagaimana kompetisi manfaat ini dapat disikapi masyarakat, sebab masyarakat tidak mengerti mengenai substitusi, perdagangan internasional, maupun permasalahan ekonomi mikro dan makro, yang mereka tahu, adalah kebutuhan hari ini harus dpenuhi.
